15 Maret 2015
10 Software ScreenShot Terbaik dan Pilihan
14 Mei 2008
CINTA
| Allah Mengajarkan Cinta |
| Pernahkah hatimu merasakan kekuatan mencintai Kamu tersenyum meski hatimu terluka karena yakin ia milikmu, Kamu menangis kala bahagia bersama karena yakin ia cintamu Cinta melukis bahagia, sedih, sakit hati, cemburu, berduka Dan hatimu tetap diwarnai mencintai, itulah dalamnya cinta Pernahkah cinta memerahkan hati membutakan mata Kepekatannya menutup mata hatimu memabukkanmu sesaat di nirwana Dan kau tak bisa beralih dipeluk merdunya nyanyian bahagia semu Padahal sesungguhnya hanya kehampaan yang mengisi sisi gelap hatimu Itulah cinta karena manusia yang dibutakan nafsunya Cinta adalah pesan agung Allah pada umat manusia DitulisNya ketika mencipta makhluk-makhlukNYA di atas Arsy Cinta dengan ketulusan hati mengalahkan amarah Menuju kepatuhan pengabdian kepada Allah dan Rasulnya Dan saat pena cinta Allah mewarnai melukis hatimu, satu jam bersama serasa satu menit saja Ketika engkau memiliki cinta yang diajarkan Allah Kekasih menjadi lentera hati menerangi jalan menuju Illahi Membawa ketundukan tulus pengabdian kepada Allah dan RasulNya Namun saat cinta di hatimu dikendalikan dorongan nafsu manusia Alirannya memekatkan darahmu membutakan mata hati dari kebenaran Saat kamu merasakan agungnya cinta yang diajarkan Allah Kekasih menjadi pembuktian pengabdian cinta tulusmu Memelukmu dalam ibadah menuju samudra kekal kehidupan tanpa batas Menjadi media amaliyah dan ketundukan tulus pengabdian kepada Allah Itulah cinta yang melukis hati mewarnai kebahagiaan hakiki Agungnya kepatuhan cinta Allah bisa ditemukan dikehidupan alam semesta Seperti thawafnya gugusan bintang, bulan, bumi dan matahari pada sumbunya Tak sedetikpun bergeser dari porosnya, keharmonisan berujung pada keabadian Keharmonisan pada keabadian melalui kekasih yang mencintai Karena Allah adalah kekasih Zat yang abadi Cintailah kekasihmu setulusnya maka Allah akan mencintaimu Karena Allah mengajarkan cinta tulus dan agung Cinta yang mengalahkan Amarah menebarkan keharmonisan Seperti ikhlas dan tulusnya cinta Rasul mengabdi pada Illahi Itulah cinta tertinggi menuju kebahagiaan hakiki |
25 Februari 2007
Harum Mewangi
19 November 2006
Amien
oh TUHAN seandainya telah kau catat-kan
dia milik-ku, tercipta untuk-ku
satukan-lah hati-nya dengan hati-ku
titipkan-lah kebahagiaan
ku pasrah-kan kepada-MU
karuniakan-lah aku, pasangan yang beriman
bisa menemani-aku
supaya aku dan dia
dapat mencapai bahgia
kemuara"cinta yang Engkau Ridhoi"
TUHAN hanya kepada Engkau
aku meminta, dan menangis...
karena engakaulah yang memiliki hati - hati kami
aku hanya bisa merengek dan menangis,
hanya kepadamu-lah aku merengek minta belas kasian-MU
Tuhan aku minta cinta yang tumbuh dalam jiwa ini,
tumbuh karena atas kecintaan kami kepada-MU
Tuhan jangan kaubutakan hati kami karena cinta...
Tuhan Rihdoi-lah bunga-bunga cinta kami
amien...amien....amien...
29 Oktober 2006
minal aizin wal faizin

assalamu'alaikum wr.wb
14 Oktober 2006
... kenapa ya? ...
"Seandainya anak cucu Adam (manusia) mendapatkan dua lembah yang berisi emas, niscaya ia masih menginginkan lembah emas yang ketiga. Tidak akan pernah penuh perut anak Adam kecuali ditutup dalam tanah (mati). Dan Allah akan mengampuni orang yang bertaubat." (HR Ahmad).
Serakah adalah salah satu dari penyakit hati. Mereka selalu menginginkan lebih banyak, tidak peduli apakah cara yang ditempuh itu dibenarkan oleh syariah atau tidak. Tak berpikir apakah harus mengorbankan kehormatan orang lain atau tidak. Yang penting, apa yang menjadi kebutuhan nafsu syahwatnya terpenuhi.
Bila tidak segera dibersihkan, penyakit sosial ini dapat menimbulkan malapetaka. Orang yang serakah, akan membuat mata hati dan pendengarannya menjadi tuli. "Cintamu terhadap sesuatu membuat buta dan tuli." (HR Ahmad).
Serakah juga menjadi pintu masuknya setan. Bila masuk dalam hati orang yang serakah, setan akan menghiasinya dengan sifat−sifat tercela lainnya. Dan orang yang serakah itu selalu menganggap baik apa yang dilakukannya, meski kebanyakan orang melihatnya sebagai suatu keburukan.
Serakah, ternyata tidak sebatas pada harta benda semata−mata. Ada orang yang serakah kepada wanita ataupun jabatan. Orang yang serakah kepada wanita, akan menjadikan wanita itu sebagai pemuas nafsunya belaka. Orang yang serakah kepada jabatan, akan berusaha mendapatkan apa yang menjadi incarannya dengan segala cara. Tak pernah berpikir apakah cara yang ditempuh baik atau buruk.
Namun, ada juga serakah dalam hal kebaikan. Serakah ini bisa memberikan jaminan keselamatan bagi pelakunya di dunia dan akhirat. Serakah yang baik merupakan sifat yang dimiliki oleh orang beriman.
Serakah yang baik akan mendorong orang beriman untuk berlomba−lomba meraih ridha Allah SWT. Mereka tak peduli bagaimana kondisi diri. Yang mereka lihat adalah ridha Allah SWT semata. Mereka rela meninggalkan anak istri untuk jihad di jalan−Nya. Mereka juga rela menempuh perjalanan yang begitu jauh untuk menyambut seruan Ilahi.
Orang yang serakah kepada kebaikan ini justru dianjurkan oleh Rasulullah SAW karena membuat mereka bersungguh−sungguh dalam beribadah dan beramal. Mereka juga menginfakkan sebagian hartanya di jalan Allah SWT. "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (karena tahajud), sedangkan mereka berdiri kepada (Allah) dengan rasa takut dan harap dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka." (QS As− Sajadah (32): 16). (Hikmah/Republika)
Mari bekerja
Ada dua hikmah yang dapat dipetik dari cuplikan hadis di atas. Pertama, keutamaan bekerja. Islam tidak memandang jenis pekerjaan, tapi lebih menitikberatkan pada semangat bekerja, etos kerja, dan kegigihan untuk mengais rezeki yang halal. Karena memang jenis pekerjaan seseorang itu berbeda−beda.
Dalam sejarah para Nabi, kita temukan contoh keanekaragaman jenis pekerjaan mereka. Nabi Nuh sebagai ahli perkayuan, Nabi Daud sebagai ahli logam (QS Al−Anbiya (21): 80), Nabi Idris sebagai ahli jahit, Nabi Syu'aib sebagai ahli pertanian, Nabi Yusuf sebagai menteri hasil bumi, Nabi Musa sebagai buruh dan ahli bangunan, dan Nabi Muhammad SAW sebagai pengusaha dan penggembala.
Meski begitu, semangat dakwah ilallah para Nabi sedikitpun tidak pernah padam. Justru mereka menjadikan pekerjaan sebagai simbol kemuliaan (al−izzah) dan penopang dakwah. Bukan sebaliknya, menjadikan dakwah sebagai lahan pekerjaan untuk mencari dan mengumpulkan harta.
Simak jawaban para Nabi ketika dakwah mereka diklaim bermotif materi. "Dan aku sekali−kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam." (QS Asy−Syu'ara (26): 164).
Kedua, tercelanya mengemis. Perbuatan ini adalah cermin kemalasan. Dan Islam sangat mengecam kemalasan. Rasulullah SAW selalu berdoa agar dijauhkan dari sikap malas (al−kasal). Islam berulang kali menganjurkan umatnya agar giat bekerja dan terus meningkatkan etos kerja, baik sebagai buruh, karyawan, pegawai negeri, atau wiraswasta. "Dan Katakanlah, Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul−Nya serta orang−orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan−Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS At−Taubah (9): 105).
Imam Al−Ghazali dalam Ihya 'Ulumuddin mengatakan, "Ada dua cara mendapatkan harta. Pertama, keberuntungan tanpa harus memeras keringat, seperti warisan atau menemukan harta karun. Kedua, bekerja baik berdagang, buruh, dan lainnya. Islam mengecam keras tindakan yang ketiga yaitu, meminta−minta kecuali terdesak." Ujar Rasulullah SAW, "Tidaklah seseorang senantiasa mengemis kepada orang lain, kecuali pada hari kiamat wajah mereka tiada berdaging." (HR Muslim). (Hikmah/Republika)
Rasulullah SAW bersabda, "Malu itu termasuk keimanan dan keimanan membawa ke surga. Sedangkan perbuatan keji termasuk kejelekan dan kejelekan tempatnya di neraka." (HR Tirmidzi).
Manusia merupakan makhluk Allah SWT yang paling sempurna. Kesempurnaan itu tampak dari dianugerahkannya akal, sehingga manusia mampu memilah antara yang hak dan batil.
Malu merupakan sifat yang mulia. Sifat yang telah diwariskan oleh para Nabi. Islam menganjurkan umatnya agar menjadikan malu sebagai penghias hidupnya. Hiasan yang membawa kebaikan bagi pemiliknya dan menjadi jalan menuju surga.
Imam Ibnul Qoyyim berkata, "Antara dosa dan sedikitnya rasa malu ada keterkaitan yang sangat erat, maka setiap dari keduanya akan menuntut yang lain. Barang siapa malu kepada Allah ketika berbuat maksiat, Allah pun akan malu menyiksanya pada hari kiamat kelak. Dan barang siapa tidak punya rasa malu kepada Allah ketika berbuat maksiat, maka Allah tidak akan malu menyiksanya kelak." (Ad−Da'u Wad Dawa', hal 111).
Hilangnya rasa malu menyebabkan hilangnya seluruh kebaikan manusia. Sifat malu juga merupakan perangai yang mengantarkan seseorang untuk istiqamah berbuat baik dan terpuji, sehingga rela meninggalkan perbuatan jelek dan maksiat.
Sudah saatnya malu menjadi budaya yang harus selalu dijaga dan dipelihara, baik oleh individu, kelompok, terlebih bangsa ini. Kita sadari betapa tidak berhentinya petaka, bencana, yang melanda bangsa ini mungkin salah satunya diakibatkan oleh hilangnya rasa malu.
Pejabat merasa malu jika menyelewengkan kekuasaan terkait profesinya. Jabatannya merupakan amanah yang harus diemban. Dia menjadi pejabat bukan karena kehebatannya, melainkan kepercayaan konstituen kepadanya. Seorang wanita merasa malu mempertontonkan 'perhiasannya' pada orang yang tidak memiliki hak atasnya. Dia berpikir bahwa 'perhiasan' itu merupakan karunia Allah SWT yang harus dijaga.
Seorang pengusaha merasa malu jika terlambat memberi upah pada karyawannya. Kesuksesan usahanya adalah berkat kerja keras para karyawannya. Tak ada artinya dia tanpa bantuan karyawan.
Penguasa merasa malu jika tidak memberikan pelayanan terbaiknya kepada rakyat. Kekuasaan yang dimilikinya sangat terbatas oleh ruang dan waktu. Namun, kekuasaan Allah SWT bersifat kekal. Ketakutannya kepada Allah SWT mendorongnya untuk berbuat adil dan bijaksana.
Hasan Al Bashri berkata, "Empat perkara yang barang siapa ada padanya akan sempurna, dan barangsiapa yang mempunyai satu saja, maka ia termasuk orang saleh pada kaumnya; agama sebagai petunjuknya, akal yang meluruskannya, mawas diri yang menjaganya, malu yang menggiringnya." (Al−Adab asy−Syar'iyah, 2/219). (Hikmah/Republika)
Amal, haruslah digerakkan dengan tangan−tangan kecil yang tulus. Tangan−tangan yang tak terlihat (invisible hand), namun bisa dirasakan keberadaannya memenuhi rongga−rongga jiwa yang kerontang. Besarnya amal atau kemanfaatannya, akan sirna bila tangan−tangan kecil itu tak bergerak.
Tak bergerak atau berhenti bergerak atau tak mau berusaha menggerakannya walau perlahan sekalipun. Padahal Rasul yang mulia, Muhamad telah membatasi perilaku amal kita bahwa Mengerjakan amal karena selain Allah adalah syirik, namun meninggalkannya adalah riya’.
Syirik, berarti membiarkan tangan−tangan kecil itu terpasung dan membuatnya tak bergerak. Tetap riya’ berarti tak mau berusaha menggerakkan tangan−tangan itu dari kekakuan gerak keikhlasan.
Berhenti, bisa dipahami sebagai tanpa gerakan. Ia jumud, dan juga tidak produktif menghasilkan amal yang berkualitas. Walaupun ada, nampaknya amal itu akan lebih hina daripada debu jalanan sekalipun. Sebab, bila amal yang tak berkualitas hanyalah akan sirna seiring tiupan angin yang menerpa debu jalanan. Hilang seketika tanpa bekas−bekas yang tergores berarti.
Kita Harus Belajar
Ada seorang wanita yang mencaci maki pembantunya di bulan Ramadhan. Ketika Rasulullah melihat kejadian ini beliau menyuruh seseorang untuk membawa makanan dan memanggil wanita itu, lalu Rasulullah bersabda, "Makanlah makanan ini,". Wanita itu menjawab, “Saya ini sedang berpuasa ya Rasulullah,” Rasululah bersabda lagi, "Bagaimana mungkin kamu berpuasa padahal kamu mencaci−maki pembantumu. Sesunguhnya puasa adalah sebagai penghalang bagi kamu untuk tidak berbuat hal−hal yang tercela. Betapa banyak orang yang berpuasa, dan betapa banyaknya orang yang kelaparan.”
Kisah yang terjadi pada masa Rasulullah ini merupakan potret perilaku kebanyakan manusia yang masih berulang hingga kini. Pemunculan sikap, dimana puasa hanya sebatas menahan nafsu jasmaniah seperti apa yang Rasul khawatirkan terhadap umatnya ketika menjalani hari−hari Ramadhan yang teramat mulia, yakni, "Banyak sekali orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa−apa kecuali lapar dan dahaga," begitulah sabdanya.
Shaum (shiyam) atau yang lebih dikenal masyarakat Indonesia dengan istilah ‘puasa’, berarti menahan. Menahan dari hal−hal yang dilarang Alloh hingga waktu yang ditentukan. Sepertihalnya makan, minum dan bercampur dengan pasangan kita di waktu siang. Tetapi, sesungguhnya ada hal lain yang disiratkan kutipan kisah di atas atas maksud istilah ‘menahan’ tadi, tidak hanya berpuasa secara jasmani, tetapi juga mem’puasa’kan ruhani mereka.
Amarah, menggunjingkan sesama (ghibah), dan berbohong, adalah salah satu bentuk pelanggaran pahala tatkala kita tengah berpuasa. Sebagaimana yang dikisahkan di atas, seorang wanita yang memaki pembantunya, merupakan cerminan dari sifat seseorang yang tak mampu mengaplikasikan ruh shiyam (puasa) yaitu menahan sesuatu yang Alloh haramkan. Namun bukan berarti, ketika sudah berbuka kita bisa melepaskan amarah kita, boleh berbohong, dan lainnya.
Di sinilah, Alloh mengajarkan tentang makna shaum bagi hambaNya. Bagaimana sebuah ibadah puasa mampu memiliki efek luar biasa bagi ibadah lainnya. Dengan kelebihannya, puasa mampu melatih lahir dan batin kita untuk senantiasa beribadah kepadaNya. Menahan kebutuhan jasmaniah dan melatih ruhaniah
Namun, sejujurnya kerapkali benteng pertahanan itu berlubang, walau tak sampai hancur hingga puasa kita batal karenanya. Namun, dengan berlubangnya puasa kita, rusak pula pahala yang kita rajut sejak sahur di kala fajar hingga waktu berbuka di senja hari. Dan kitapun tak mendapatkan apa−apa, hanya sebatas rasa lapar yang menggigit, kerongkongan yang kering dan bau mulut yang tak sedap. Sia−sia.
Dalam menyambut kemuliaan Ramadhan, Rasulullah telah menyontohkan dengan mempersiapkan kedatangannya 2 bulan sebelumnya, yakni Rajab dan Sya’ban. Dua bulan menjelang Ramadhan inilah, Rasulullah dan para sahabat melakukan "pemanasan" sebelum Ramadhan benar−benar hadir mengisi hari−hari. Hingga kita benar−benar merasa siap dengan keberkahan yang akan Alloh SWT karuniakan saat Ramadhan.
ada apa dengan RAMADHAN
Dan, selaras dengan "tangan kanan memberi tanpa sepengetahuan tangan kiri", adalah kepeduliaan tanpa pamrih yang sepantasnya melandasi aktivitas bersedekah setiap muslim, bahkan setiap orang, terlebih pada bulan tersebut. Juga, sepeninggal nabi dan rasul, kepada alim ulama, ummat mencari petuah-petuah yang meluruskan jalan.
Sayang beribu sayang, "apa yang saya percayai"-seperti yang saya paparkan di atas-berbenturan dengan "apa yang (akan) saya saksikan" selama Ramadhan pada tahun tahun dan tahun-tahun silam.
Pertama, undangan buka puasa dan pembagian bingkisan serta zakat fitrah bagi para dhuafa dan anak yatim memang sudah menjadi kebiasaan dari tahun ke tahun. Tapi, berbagai manifestasi kemurahan hati semacam itu niscaya tidak akan menjadi safeguard bagi dhuafa pasca Ramadhan. Kebahagiaan yang terbit akibat kemurahan hati orang-orang yang mampu, hanya sekejap. Sementara itu, kesusahan hidup dhuafa hakikinya berlangsung berkepanjangan.
'Tragis'nya, justru pada para penghuni dunia selebriti seolah firman Illahi terbuktikan. Mulai dari waktu sahur, tengah hari, saat berbuka puasa, malam hari, hingga waktu sahur berikutnya, adalah para artis yang kebanjiran-berat saya menulis kata ini-"berkah".
Jarak kebahagiaan material antara yang diterima oleh kaum dhuafa dengan para selebriti tak ubahnya seperti bumi dan langit. Jika untuk sebuah acara berdurasi satu jam saja seorang selebriti dapat menerima jutaan rupiah, sehingga lebih dari sekedar cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mendasar, seorang dhuafa harus bermandi peluh mencari sesuatu yang dapat memperpanjang hidupnya satu hari. Itu pun tanpa jaminan ia pasti mendapatkannya.
Saya tidak tengah menggugat profesi selebriti. Juga tidak sedang mempermasalahkan halal tidaknya rezeki yang mereka peroleh dari kesibukan mereka mengisi acara di layar kaca.
Yang membuat hati pedih adalah realita bahwa kian kayanya para selebriti selama Ramadhan merupakan buah dari kegandrungan khalayak luas akan dunia selebriti itu sendiri. Masyarakat telah menjadi 'orang tua asuh', dengan kecintaan para televisi sebagai 'pola asuh'nya dan para artis sebagai 'anak-anak asuh'nya'.
Gaya hidup itulah yang-ambil contoh ekstrim-membuka kesempatan bagi seorang selebriti, yang memiliki dua anak hasil kumpul kebo dengan selebriti lainnya yang berbeda iman, untuk tampil di televisi menceritakan pengalamannya melaksanakan ibadah puasa selama Ramadhan.
Entah, dari perspektif mana penyikapan terhadap si selebriti harus dilakukan. Haruskah dari empati, sehingga memandangnya sebagai seorang pendosa yang menjadikan tiga puluh hari bulan ini sebagai momen 'pertobatan'? Ataukah dengan pandangan judgmental, dengan menilai kisah si artis sebagai perwujudan betapa neraka dan surga telah saling tumpang tindih tak keruan?
Kedua, Ramadhan menjadi masa indah bagi pengusaha bingkisan. Tidak ada salahnya dengan aktivitas berdagang, adilakukan dengan jujur dan adil. Pertanyaannya, di seputar manakah bingkisan-bingkisan itu diantarkan?
Sebagian, bisa jadi masuk ke panti-panti yatim piatu. Ada pula yang menjadi hadiah bagi para pekerja yang sering terlupakan, seperti penjaga pintu perlintasan kereta api, petugas menara mercusuar, dan polisi berpangkat rendah yang sibuk mengatur para pengemudi kendaraan yang sebenarnya enggan diatur.
Tetapi, dugaan terkuat, lalu lintas utama bingkisan lebaran-terlebih yang berkemasan mewah dan berharga mahal-adalah dari kaum berharta yang satu ke kaum berharta yang lain. Urgensi parcel, jika dianalogikan sebagai sedekah, telah berpindah dari hasrat altruistis (berbagi kegembiraan dengan kaum papa) ke motivasi egoistis (simbol kepentingan terselubung si pemberi yang 'seyogianya' dipenuhi oleh si penerima parcel).
Signifikansi bingkisan pun, tak pelak, berubah. Bukan lagi ungkapan syukur atas limpahan rezeki dari ar Rahman ar Rahim, melainkan bentuk penghamburan uang yang sampai-sampai harus dilarang.
Lagi, bagaimana menanggapi fenomena ini? Julukan apakah yang pantas diberikan kepada si pemberi bingkisan? Si murah hati, atau si busuk hati? Juga bagi si atasan penerima bingkisan, apakah ia cerminan pemimpin yang dicintai bawahan sehingga dibanjiri hadiah, ataukah tidak lebih dari seorang individu yang cukup dungu dengan membiarkan dirinya dijadikan sasaran aksi para penjilat?
Ketiga, sekian banyak alim ulama menjadi langganan beraneka media untuk memberikan santapan rohani kepada para pemirsa. Alim ulama, selaku orang-orang yang seharusnya sibuk memperkaya diri dengan pengetahuan agama dan membangun watak takwa, begitu masuk ke dunia media tidak sedikit yang serta-merta berubah penampilan.
Latar panggung yang indah serta gaya berbusana yang modis dan berganti setiap hari, telah mendeviasi citra para ulama selaku kaum bersahaja. Akibatnya, bisa jadi akan muncul problem legitimasi bagi si ulama untuk bertutur tentang pentingnya hidup sederhana dan ikhlas seperti Rasulullah Muhammad, tatkala pakaian yang dikenakan si ulama nyatanya berbeda jauh dengan isi ceramahnya.
Jadwal padat kegiatan para ulama untuk mengisi forum pengajian di gedung-gedung besar dan kelompok-kelompok elit seperti telah memisahkan ulama dari habitat mereka semula, yakni wong cilik di mushala-mushala kampung maupun di tanah lapang yang gersang dan tanpa tempat duduk.
Kaum jelata ini tak menyimpan banyak uang, namun memendam rindu akan pencerahan dari sang ustad. Tetapi, jangankan berhasil mendatangkan si alim ulama, memasukkan nama mushala mereka ke daftar antrian saja sudah menjadi perjuangan yang beratnya luar biasa.
Jadi, apakah petuah-petuah indah yang disampaikan para pengkhutbah itu merupakan cerminan kepekaan mereka atas problem-problem aktual, ataukah sebatas produk kreativitas rasional yang dipacu oleh desakan kapitalisme?
Apakah kekaguman masyarakat adalah masih murni seperti dulu, yakni simpati terhadap kesantunan pekerti si ustad? Ataukah, diam-diam terselip di batin, kekaguman itu sudah tercemari oleh rasa penasaran ingin melihat penampilan sang ustad hari ini yang pasti dikemas dengan hiasan yang lebih baik daripada hari kemarin?
Adalah rentetan pertanyaan atau, dengan kata lain, ketidak-kongruenan antara "apa yang saya percayai" dengan "apa yang saya saksikan" yang berujung pada-maaf-pesimisme bahwa Ramadhan tahun ini akan berakhir dengan jumlah pemenang yang lebih banyak daripada tahun-tahun silam.
Manusia, agaknya, tidak lagi melihat janji-janji agung Illaahi sebagai sesuatu yang istimewa untuk dinantikan. Wallaahu a'lam bishawab.
mentari panas
Matahari siang Ramadhan kali ini terasa begitu membakar. Bagaimana tidak, seharian penuh masih saja kita gunakan untuk mengejar dunia yang tak ada habisnya untuk dinikmati pemujanya. Ibarat air laut yang tak pernah kenyang ketika direguk, selalu haus dan sama : takkan ada habisnya!.
Padahal, sinar matahari yang berpendar di belahan Timur Tengah, dimana Rasulullah SAW dan para shahabatnya tinggal, jauh lebih terik daripada matahari di belahan Indonesia. Di padang pasir yang kering kerontang dan gersangnya pepohonanlah, mereka dibina menjadi generasi terbaik sepanjang sejarah manusia.
Namun, ketika kita mendekat untuk mengamati mereka, ada sebuah perbedaan yang mencolok antara generasi terbaik itu dengan kita yang hidup jauh berbelas abad setelah Rasulullah. Yakni, mereka jauh lebih siap dalam menghadapi dan menyambut bulan mulia itu.
Kita lihat bagaimana Rasulullah sebagai guru terbaik mengajarkan untuk warming up di dua bulan sebelum Ramadhan menjelang. Ya, Rajab dan Sya’ban menjadi medan latihan pertama sebelum seorang muslim ‘bertempur’ di bulan Ramadhan.
Namun, orang−orang di belahan timur seperti Indonesia, merasa matahari kini jauh lebih panas dari biasanya. Dengan dzikir keluh dan lafazh kesah, menambah beringasnya surya yang terasa hampir menguliti tubuh.
Bagaimana mungkin, padahal matahari yang sama dengan keadaan jauh lebih ganas di padang pasir sana, para sahabat tak pernah melantunkan doa putus asa menghadapi keadaannya. Justeru mereka begitu menikmati shaum mereka dengan kondisi alam yang tak bersahabat.
Di Indonesia, dimana orang−orang seperti aku hidup dalam gemerlapnya lampu metropolitan, menyambut Ramadhan terasa begitu asing dan mengherankan. Kalaupun toh dilakukan, hanya sebatas kalangan masjid dan kelompok kerohanian di instansi tertentu.
Penyambutan di kalangan keluarga? Kalau ada, hanyalah sebagian kecil di kalangan aktivis saja. Namun di kalangan pasifis, menyambut di mall dan pusat perbelanjaan atau café jauh lebih meriah. Ditambah dengan membeli aksesoris mahal untuk menandakan bahwa mereka kini berada di bulan Ramadhan.
Sehingga wajar saja, kalau matahari di sudut Timur ini jauh lebih ganas ketimbang sinar yang memancar di padang pasir sana. Kering kerontangnya iman membuat setiap rusuk tak lagi mampu menopang tubuh yang disibukkan mengejar dunia. Sedih rasanya, ketika air mata tak mampu lagi menolak nafsu raga yang mengejar sesuatu yang fana.
Dan matahari, kerap datang dengan pasti sebagaimana malam berganti setiap hari dan iringan detik−detik jam yang terbuang sia−sia oleh manusia kota yang mengaku modern namun kuno akan ma’rifat kepadaNya.
Panasnya matahari takkan berarti apa−apa, asal pendingin hati yang bersemayam di balik raga berfungsi sebagaimana mestinya. Agar berfungsi baik, jadikanlah lafazh dzikir dan doa syahdu dalam melembutkan hati untuk mengembalikan fungsinya agar dapat mendekat padaNya.
(Kutulis, ketika aku sadar bahwa Ramadhan tinggal beberapa saat lagi)
03 Oktober 2006
MURAH dan BERGARANSI

assalamu'alaikum wr.wb
Paket Ramadhan all new
| Prosessor | AMD 754 pin Sempron 64 2600+ |
| Mainborard | Foxconn nF3250K8AA – RS – SC – Lan – 754 pin |
| Memory | TwinMOS 256 M PC 3200 |
| Hardisk | HITACI 80 G |
| Cd Room | Samsung Combo |
| VGA | HIS 9250SE 128 MB |
| Sound | O/b |
| Casing | Mentari 400 w |
| Monitor | 15’’ PHILIPS |
| | |
| Bonus | Stabillise Kasugawa 500Va elektrik + Keyboard + mouse + Speaker + Flashdisk 256M Kingtone |
garansi 1 th
cukup dengan:Rp 3.650.000,--
harga bisa dinego, dan harga dapat berubah sewaktu - waktu tanpa pemberian terlebih dahulu
hub: alfi di 08882725980
28 September 2006
Paket RAMADHAN untuk anda......
saya ucapkan banyak terimakasih atas kunjungan anda. Di bulan RAMADHAN ini mari kita hidup ini kita bikin lebih bermanfaat dan berarti bagi kehidupan ini.
Dari kami ada beberapa program khusus RAMADHAN
1.Kosultasi gratis seputar IT
2.Mau bisnis kecil - kecil tetep untung boleh kok
3.Mau beli komputer dan acecoris murah bergaransi ok
dijamin barokah
wass.....
Air Mataku UntukMu ya Allah

Dalam keheningan shalat malam
Air mataku untukMu ya Allah
Di syahdunya tilawah
Air mataku untukMu ya Allah
Di lapar dan dahaganya shaum
Air mataku untukMu ya Allah
Di keringnya bibir dalam berdzikir
Air mataku untukMu ya Allah
Di semangatnya berjuang dalam kebenaran
Air mataku umtukMu ya Allah
Dan ketika Engkau memberikan pilihan yang terbaik
Air mataku untukMu ya Allah
Ya Allah ketika cinta bersemi kembali
Hamba hanya ingin dikuatkan untuk lebih mencintaiMu
Karena terkadang hati ini berpaling dariMu
Terperosok oleh kesemuan dunia dan makhlukMu
Ya Allah tolonglah... kuatkan hati ini untuk lebih mencintaiMu
Jadikanlah kendaraan rinduku sebagai muara pertemuan denganMu
Bantulah hamba Ya Robb
Pautkanlah hati ini untuk selalu mengingatMu dan...
Bimbinglah hamba menuju jalan yang Engkau ridhoi
Amin...
20 September 2006
Tambah Ilmu
Maaf sebelumnya...
Akhir-akhir ini setelah ditemukan planet besar setelah pluto dan disahkannya planet tersebut menjadi planet ke-10. ternyata badan antariksa dunia membuat pernyataan yang kontroversial dengan menghapuskan nama pluto dari golongan planet. sehingga sekarang praktis planet-planet yang mengelilingi matahari tinggal 9 planet. ADA USAHA APA DIBALIK INI SEMUA?
Al Qur'an surat 65 ayat 12 (65/12) menyatakan "Allah menciptakan tujuh langit (samawat) yang semisal dengan bumi (..minal ardhi mislahuna...)....".
Sementara pada surat 23/17 Allah menyatakan "diatas kamu ada tujuh jalan (orbit)..."
dan pada surat 78/12 Allah menyatakan " Kami bangun diatas kamu tujuh buah bangunan yang kokoh...".
Dari ayat-ayat tersebut dan dikorelasikan dengan ayat-ayat Al Qur'an yang lain yaitu : 3/83, 16/49, 70/40, 31/20, 34/23, 45/13, 12/105, 14/4, 30/22, 6/120, 44/38-39, 2/29, 39/67, 20/6 jelas-jelas menyatakan bahwa di atas Bumi terdapat tujuh buah planet yang beredar mengelilingi matahari dan planet-planet tersebut ternyata serupa dengan bumi (mempunyai ciri-ciri seperti bumi) dan ternyata terdapat kehidupan baik dari golongan jin dan manusia (jin ada yang menjadi rasul 6/120). sehingga keberadaan tujuh buah planet diatas bumi sebetulnya telah diwahyukan dan diberitahukan kepada manusia 1400 tahun yang lalu yang kemudian disiarkan melalui lisan seorang manusia bernama Muhammad.
Wahyu ini kemudian dimushafkan dan sekarang dinamakan Al Qur'an.
Pernyataan penghilangan pluto dari kelompok planet adalah usaha tersembunyi dari para pendukung paham materialisme dan golongan yahudi serta orang-orang musrik untuk membuat kebodohan berkepanjangan dalam golongan Islam sehingga ada usaha apa yang dinyatakan dalam wahyu dikaburkan dengan kesepakatan manusia.
Hal ini merupakan usaha penyangkalan atas apa yang tertulis dalam Al Qur'an sehingga golongan Yahudi dan Musrik memasukkan doktrin melalui ilmu pengetahuan yang dipaksakan tidak sejalan dengan WAHYU ALLAH.
padahal jelas sekali jika kita pelajari, Pluto juga mengitari matahari seperti bumi (revolusi), pluto juga berputar pada porosnya (rotasi) tidak seperti asteroid dan satelit. Pluto juga mempunyai satelit, pluto juga mempunyai atmosfer. Lalu hanya dengan alasan ukuran yang lebih kecil lalu pluto tidak dianggap planet. Maaf jika saya mengambil permisalan dengan orang yang kerdil, apakah orang yang kerdil tidak pantas disebut manusia karena bentuknya?padahal dia juga mempunyai ciri-ciri dan perilaku seperti halnya manusia.
Penghilangan pluto tidak lain juga merupakan usaha untuk mencegah berlakunya ayat Al Qur'an surat 110/1-3. Yaitu
1. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan
2. DAN KAMU LIHAT MANUSIA MASUK AGAMA ALLAH DENGAN BERBONDONG-BONDONG
3. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhan-Mu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia maha Penerima Taubat.
Terbukti !!! Allah telah memberikan pertolongan kepada kaum muslim justru melalui teknologi kaum kafir dengan membuktikan adanya tujuh buah planet diatas bumi.
Maka sebagai kaum muslim masihkah kita meragukan AL QUR'AN dan mengambil hukum-hukum lain selain dari AL QUR'AN? masihkah kita berdebat soal mashab dan soal hadist yang dikatakan berasal dari MUHAMMAD?
karena hanya AL Qur'an lah satu-satunya Wahyu NYATA dari Allah bukan mashab dan hadist !!!
BERSATULAH KAUM MUSLIMIN DENGAN KEMBALI KEPADA SATU JALAN ALLAH (AL QUR'AN). JADIKAN AL QUR'AN SEBAGAI SATU-SATUNYA HUKUM DAN SUMBER HUKUM JADIKAN AL QUR'AN SEBAGAI FURQON (2/185), DAN JADIKAN AL QUR'AN SEBAGAI PETUNJUK BAGI KAUM MUSLIMIN...
InsyaAllah akan kita temui "Shirothol MUstaqim" seperti yang selalu kita minta petunjuknya dalam Sholat kita "ihdinas shirothol mustaqim..."
Wassalamu'alaik
19 September 2006
Bagaimana aq harus ngomong
ok temen semua ya
dalam rangka menyambut bulan ramadan ini saya mengucapkan SELAMAT menunaikan ibadah puasa. marilah kita salaing memaafkan, sucikan hati, pikiran, supaya ramadatan tahun ini lebih indah dan bermakna.
amien...
wass....
Assalamu'alaikum wr.wb
-
Hari libur yang cerah ini kuhabiskan untuk membantu Ibu di Restoran miliknya, Seasons Food. Restoran ini di beri nama seperti itu, karena di...
-
Apakah Anda berpotensi untuk menjadi wirausaha handal? Saya tidak tahu. Tetapi bila Anda bertanya-tanya apakah Anda dapat mengetahui sebera...
-
Membuat File Windows 7 m/tutorial/cara-install-windows-7-dengan-virtualbox/27/ 1. Jalankan aplikasi virtualbox untuk memulai pembuatan ...









