24 Maret 2015

Tanda Kepangkatan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat

Assalamu'alaikum wr.wb

Tanda Kepangkatan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat adalah daftar tanda pangkat yang digunakan di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat hingga saat ini. Sebagaimana di kecabangan lainnya, kepangkatan terdiri dari Perwira, Bintara dan Tamtama.
Tanda kepangkatan di bawah mengikut dari pakaian dinas yang digunakan. Di antaranya adalah Pakaian Dinas Upacara (PDU), Pakaian Dinas Harian (PDH) dan Pakaian Dinas Lapangan (PDL). Masing-masing pakaian dinas dan atributnya telah diatur dalam peraturan TNI. Tanda kepangkatan sendiri dalam beberapa hal terbagi dua, yaitu yang memegang komando (ada garis merah di pinggir atau tengah) dan staf biasa.
Pada tanda pangkat perwira pertama dan menengah ditambahkan lambang kesatuan atau kecabangan yang ada di TNI Angkatan Darat.
Tanda Pangkat Jenderal Besar
Tanda Pangkat TNI AD – Jenderal Besar

Perwira Tinggi sering juga disingkat menjadi Pati.
Tanda Pangkat Perwira Tinggi (Pati)
Tanda Pangkat TNI AD – Perwira Tinggi (Pati)

Perwira Menengah sering juga disingkat menjadi Pamen.
Tanda Pangkat TNI AD - Perwira Menengah
Tanda Pangkat TNI AD – Perwira Menengah

Perwira Pertama sering juga disingkat menjadi Pama.
Tanda Pangkat TNI AD Perwira Pertama
Tanda Pangkat TNI AD – Perwira Pertama

Bintara Tinggi sering juga disingkat Bati.
Tanda Pangkat TNI AD Bintara TInggi.
Tanda Pangkat TNI AD – Bintara Tinggi

Bintara
Tanda Pangkat TNI AD - Bintara
Tanda Pangkat TNI AD – Bintara

Tamtama Kepala
Tanda Pangkat TNI AD - Tamtama Kepala
Tanda Pangkat TNI AD – Tamtama Kepala

Tamtama
Tanda Pangkat TNI AD - Tamtama
Tanda Pangkat TNI AD – Tamtama

Semoga hal ini dapat bermanfaat bagi kita semua, sehingga kita dapat mengetahui tentang ilmu pegetahuan Tanda Kepangkatan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat serta memberikan kita wawasan yang lebih tentang Tentara Nasional Indonesia, sekian dan terima kasih.

CARA SEDERHANA MEMPERBAIKI KERUSAKAN KOMPUTER MATI TOTAL ATAU BLANK

Assalamu'alaikum wr.wb

Cara sederhana Memperbaiki Kerusakan Komputer Mati Total atau Blank. Acap kali anda pernah mendapati komputer/laptop/notebook Anda tiba-tiba mati total atau komputer anda tidak bisa booting dan pada layar monitor tidak menampilkan apa-apa alias blank. Lantas apa yang harus anda eksekusi untuk menyembuhkan komputer anda yang rusak tersebut ?
Nah pada kesempatan kali ini saya akan share info tentang cara sederhana memperbaiki/mendiagnosa untuk mengetahui penyebab kerusakan pada komputer yang mati total atau blank tersebut. Nah langsung saja silahkan anda siap-siap untuk melakukan berberapa pengecekan dan rescure seperti berikut ini:
1. Periksa Pada Layar Monitor :
a. Adapun langkah pertama untuk memeriksa terlebuh dahulu peyebab penyakit komputer anda yang mati total atau blank adalah dengan memeriksa terlebih dahulu layar monitor komputer anda. Mungkin saja bisa jadi penyebab komputer anda yang menyebabkan komputer anda menjadi blank karena memang monitornya yang mati bukan karena komputer yang mati total.
b. Pada kondisi komputer yang mengalami mati total atau blank, silahkan anda cek telebih dahulu pada lampu indikator monitor komputer anda apakah menyala, dan coba cabut kabel VGA Monitor, apabila tampilan monitor menjadi normal dengan menampilkan gambar atau pesan seperti misalnya “No Signal Detected” maka kerusakan memang benar terdapat pada komputer.
2. Pastikan Power Supply Berfungsi dengan baik : Apabila langkah pertama sudah anda lakukan, maka langkah selanjutnya adalah memeriksa PSU atau power Supply komputer anda, maka silahkan buka casing CPU kemudian nyalakan kembali komputer dengan menekan tombol power dan perhatikan apakah lampu indikator pada motherboard menyala dan fan Processor berputar apa tidak. Jika apabila komputer masih bisa menyala maka kemungkinan besar Power Supply anda masih dalam kondisi yang baik yakni karena power supply tersebut masih bisa berfungsi dengan baik, akan tetapi jika kondisinya berbeda, yakni apabila CPU masih tetap tidak menampilkan tanda-tanda kehidupan pada komputer anda, maka silahkan lakukan pengecekan terhadap Power Supply anda tersebut.
3. Reset BIOS Komputer : Langkah selanjutnya untuk menge-cek/mendiagnsa kerusakan komputer mati total atau blank adalah denga cara maintenence pada BIOS komputer anda. Caranya dalah dengan cara mereset BIOS komputer.
4. Bersihkan Semua Komponen pada Motherboard : Jika masih dirakan diperlukan lankah selanjutnya adalah membersihkan komponen pada motherboard anda. Caranya adalah cabut terlebih dahulu semua komponen seperti Processor, Memory dan sound Card, Vga card dan add-on card tambahan lainnya. Selanjutnya bersihkan debu dan kotoran yang menempel dengan kuas dan vacuum cleaner. Kalo ada gunakan juga cairan pembersih “electrical contact cleaner” untuk lebih membersihkan debu-debu yang menempel pada pin-pin IC atau komponen elektronik pada komponen – komponen tersebut.
5. Rakit kembali CPU tanpa Hardisk : Setelah semua komponen dibersihkan seperti pada langkah 4, rakit kembali semuanya tetapi untuk hardisk jangan dulu dipasang. Selanjutnya nyalakan komputer, disini biasanya ada beberapa hal yang akan terjadi seperti:
a. Komputer menyala normal (bisa masuk BIOS) tetapi tidak bisa booting. Hal ini ga masalah karena hardisk memang ga dipasang. Matikan dan pasang hardisk kemudian nyalakan lagi, apabila berhasil booting berarti permasalahan sudah hampir selesai. komputer mengeluarkan bunyi beep berkali-kali. Biasanya ada komponen seperti RAM dan VGA Card yang bermasalah, untuk memastikan coba diganti aja dulu dengan komponen yang sudah ketauan masih berfungsi dengan baik.
b. RAM dan VGA Card sudah diganti tetapi komputer masih tetap blank. Wah ini gawat biasanya kerusakan terjadi pada bagian Motherboard atau Processornya. Menurut pengalaman saya kebanyakan bagian Motherboard yang rusak (kata temen saya kebanyakan pada transistor power) hal ini terjadi misalnya karena power listrik PLN yang tidak stabil. Kalo ada Processor yang nganggur pinjem aja dulu untuk memastikan kerusakan.
Demikianlah cara sederhana memperbaiki/diagnosa kerusakan komputer yang mengalami mati total atau blank. saya tunggu sharing tentang Cara sederhana Memperbaiki Kerusakan Komputer Mati Total atau Blank dari kawan-kawan sekalian. Terima kasih, selamat beraktifitas semoga Tuhan YME selalu membimbing kita ke jalan yang diridhoi.

sumber: http://www.kodam17cenderawasih.mil.id/pengetahuan/umum/cara-sederhana-memperbaiki-kerusakan-komputer-mati-total-atau-blank/

15 Maret 2015

10 Software ScreenShot Terbaik dan Pilihan

Assalamu'alaikum wr.wb

Software screenshot/screen capture atau biasa disebut software/aplikasi/program komputer yang berguna untuk merekam aktifitas pada desktop yang kemudian dapat diedit atau ditambahkan berbagi efek 3d efek sobekan, blur, resize, serta berbagi bentuk dan teks, biasanya digunakan sebagai alat presentasi, blogging, pengingat, tutorial, serta kebutuhan lainnya.

01. TNT Screen Capture

tnt-screen-capture
TNT Screen Capture mudahnya merekam/print screen aktifitas yang ada pada desktop, aplikasi ini juga memiliki alat untuk mengedit gambar hasil rekaman
atau capture desktop anda (jpg,bmp,png,gif) seperti : resize (ubah ukuran), anotasi, manipulasi image, 3D, dll.

02. SnapDraw

snap-draw
SnapDraw screenshot tool memiliki keunggulan lebih dari TNT screen capture yaitu kemampuannya memberikan efek cembung pada gambar yang ingin anda fokuskan untuk dilihat, untuk fitur seperti editor, anotasi, 3d, resize,dan hasil gambar kualitas
tinggi, snap draw juga punya. fitur lebih ukuran lebih juga.

03. Screenshot Captor

ScreenCaptor-windows
Screenshot Captor apa yang baru dari Screenshot Captor ? fitur terbaru dari software ini adalah fitur untuk koreksi gambar hasil scan, kemampuan screenshot transparansi, Watermarking, scroll capture, upload image, dan efek sobekan (splice).
fitur lainnya sama dengan software sebelumnya, kecuali efek 3d.

04. Schirmfoto

schirmfoto
Schirmfoto untuk kamu yang membutuhkan kemudahan merekam atau printscreen desktop serta edit hasil dari screenshot tersebut baik memberikan marker,crop,anotasi, watermark, dll. dan menyimpannya kedalam bentuk jpg,png atau pdf.

05. DuckLink Screen Capture (DuckCapture)

DuckCapture-Editor-Small
DuckLink Screen Capture (DuckCapture) memiliki fitur yang cukup kaya dibandingkan aplikasi sebelumnya namun kehilangan rasa mudah menggunakannya DuckLink Screen Capture (DuckCapture) memiliki kekurangan fitur efek 3d, sobekan namun memiliki kelebihan di saat anda membutuhkan fitur lengkap anotasi
(memberikan teks pada gambar) serta hasil capture dalam bentuk yang berbeda/bentuk poligon .

06. SnapIr

Snaplr-screen
software perekam gambar pada desktop ini bernama SnapIr seperti aplikasi ini khusus untuk yang mementingkan tampilan dan kesimpelan sebuah software screen tool/ screen capture fitur tidak banyak, capture, berikan anotasi kemudian save.

07. Lightshot

Lightshot-screenshot
Lightshot screen tools untuk semua OS dan browser salah satu aplikasi perekam gambar pada desktop yang paling sering kami gunakan karena kemudahannya namun minus edit gambar secara offline, lighshot hanya mendukung pengeditan gambar secara online.

08. PokIt

Pokit- screenshot
PokIt screenshot tool freeware ini sangat mirip dengan lightshot perbedan terbesar antar keduanya adalah besar file untuk didownload, lightshot dengan ukuran 1.5MB sedangkan ukuran untuk Pokit sebesar 5.5 MB kemampuan sama fitur sama , kamu yang tentukan mau yanga mana?

09. Shotty

Screenshot_Shotty
Shotty mudahnya memberikan anotasi ( menambahkan tulisan/teks), memberikan efek blur, higlighter, crop, resize dan save ke file jpg,bmp,png atau print hasil sccreenshot ,kecil ukuran filenya dan tidak ribet untuk digunakan.

10. JShot

jshot1
JShot memiliki keunggulan multi screenshot dan uploader ke berbagai jejaring sosial serta kemudahan anotasi, fitur bawaan dari software screenshot tools ini adalah draw berbagai macam bentuk,resize, rekam gambar fullscreen, region capture, capture melalui webcam,dl

.

14 Mei 2008

CINTA

assalamu'alaikum wr.wb

Allah Mengajarkan Cinta


Pernahkah hatimu merasakan kekuatan mencintai
Kamu tersenyum meski hatimu terluka karena yakin ia milikmu,
Kamu menangis kala bahagia bersama karena yakin ia cintamu
Cinta melukis bahagia, sedih, sakit hati, cemburu, berduka
Dan hatimu tetap diwarnai mencintai, itulah dalamnya cinta

Pernahkah cinta memerahkan hati membutakan mata
Kepekatannya menutup mata hatimu memabukkanmu sesaat di nirwana
Dan kau tak bisa beralih dipeluk merdunya nyanyian bahagia semu
Padahal sesungguhnya hanya kehampaan yang mengisi sisi gelap hatimu
Itulah cinta karena manusia yang dibutakan nafsunya

Cinta adalah pesan agung Allah pada umat manusia
DitulisNya ketika mencipta makhluk-makhlukNYA di atas Arsy
Cinta dengan ketulusan hati mengalahkan amarah
Menuju kepatuhan pengabdian kepada Allah dan Rasulnya
Dan saat pena cinta Allah mewarnai melukis hatimu,
satu jam bersama serasa satu menit saja

Ketika engkau memiliki cinta yang diajarkan Allah
Kekasih menjadi lentera hati menerangi jalan menuju Illahi
Membawa ketundukan tulus pengabdian kepada Allah dan RasulNya
Namun saat cinta di hatimu dikendalikan dorongan nafsu manusia
Alirannya memekatkan darahmu membutakan mata hati dari kebenaran

Saat kamu merasakan agungnya cinta yang diajarkan Allah
Kekasih menjadi pembuktian pengabdian cinta tulusmu
Memelukmu dalam ibadah menuju samudra kekal kehidupan tanpa batas
Menjadi media amaliyah dan ketundukan tulus pengabdian kepada Allah
Itulah cinta yang melukis hati mewarnai kebahagiaan hakiki

Agungnya kepatuhan cinta Allah bisa ditemukan dikehidupan alam semesta
Seperti thawafnya gugusan bintang, bulan, bumi dan matahari pada sumbunya
Tak sedetikpun bergeser dari porosnya, keharmonisan berujung pada keabadian
Keharmonisan pada keabadian melalui kekasih yang mencintai
Karena Allah adalah kekasih Zat yang abadi

Cintailah kekasihmu setulusnya maka Allah akan mencintaimu
Karena Allah mengajarkan cinta tulus dan agung
Cinta yang mengalahkan Amarah menebarkan keharmonisan
Seperti ikhlas dan tulusnya cinta Rasul mengabdi pada Illahi
Itulah cinta tertinggi menuju kebahagiaan hakiki

25 Februari 2007

Harum Mewangi

assalamu'alaikum wr.wb

Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (QS. Yaasin 36:36) 
*****
"Ya Allah, siapakah gerangan sahabat sejati yang Engkau pilihkan untukku?, yang mau menemaniku merenda hari-hari untuk beribadah kepada-Mu, yang mau berbagi suka dan duka dalam mengharungi hidup ini, yang menjadikanku kokoh kuat dalam menegakkan kalimat-Mu, agar.. diriku lebih mensyukuri segala nikmat yang telah Engkau berikan, agar.. diriku lebih dekat kepada-Mu.."
Nisa tertegun mendengar do'a Ayuning di keheningan malam. Sahabatnya itu memintanya untuk menemani tidur karena orangtua Ayu ke luar kota. Do'a itupun usailah sudah, wajah Ayu bersemu merah ketika tahu Nisa terjaga dari tidurnya.
"Kamu mendengar do'aku Nisa?", Nisa tersenyum, "Apakah do'a itu yang s'lalu Ayu panjatkan pada Allah?", Ayuning diam, perlahan titik-titik embun jatuh dari kelopak matanya. "Aduhai sayang.." Ujar Nisa seraya merangkul sahabatnya, perlahan ia menyeka air mata itu, setelah agak tenang.
"Ayu.., apa yang menjadi keinginanmu adalah cita-cita seluruh wanita mukminat di dunia ini, namun jikalau ia belum terwujud, itu adalah rahasia Allah, Yang Menciptakan kita, bukankah Ia menciptakan makhluk-Nya menurut ukuran-ukuran yang telah ditetapkan? kita selaku hamba-Nya hanya bisa berusaha dan ikhtiar, dan hanya Allahlah yang menentukan.
Bukankah Ayu mencintai Allah?, rasa itu akan membuat Ayu yakin, Allah akan memilihkan yang terbaik untukmu. Demi Allah Ayu.., Allah Maha Adil terhadap hamba-hamba-Nya, karena itu, bersyukurlah bahwa Ia masih memberimu kesempatan untuk menjadi wanita yang lebih baik dari sekarang.
Ayu harus kuat dalam mengitari perputaran roda kehidupan ini, karena perkitarannya semakin hari semakin cepat. Jangan pernah berhenti sesaatpun, Ayu.. masih banyak yang perlu Ayu perhatikan, masih banyak yang memerlukan perhatianmu. Kita datang ke alam ini sendirian, Ayu.. dan kita juga akan pulang sendirian. Ayo.. jangan sedih-sedih lagi, ya.. mana senyum manisnya?.."
Ayu tersenyum pada Nisa, dari bibir mungil itu keluar kata, "Tolong do'akan Ayu ya.." Nisa membalas senyuman tulus itu, "Ia, Ayu.. Nisa do'akan" Mereka berdua sujud syukur pada Allah, melanjutkan malam itu dengan tenggelam akan kerinduan beribadah kepada Allah. Semenjak malam itu, Nisa lama tak bertemu Ayu, iapun maklum dengan kesibukan sahabatnya.
 *****
Fikiran Ayu menerawang, matanya menatap lekat langit-langit kamar, seketika ia terjaga saat mendengar telpon berdering, kriiing.. kriing... Samar-samar terdengar suara ibunya berbicara, "Ayu?, dari siapa ya?, tunggu sebentar." Ibu bergegas ke kamarnya, "Ayu.., ada telpon dari Herman."
Ini sudah kesekian kali pemuda itu menelponnya, kalau sudah di udara, melayang.. lupa segala-galanya. Entahlah iapun tidak tahu kenapa, ada getar-getar halus yang menyusup ke relung hatinya saat berbicara dengan sosok insan yang satu ini, hampir tak sepatah katapun yang bernilai sia-sia.
Yang mereka bicarakan seputar mencarikan jalan agar anak-anak jalanan mampu mandiri tanpa meminta-minta, menanamkan ajaran tauhid agar anak-anak tersebut terbentengi dari pihak-pihak yang ingin meracuni fikiran mereka supaya berpindah agama, yach Herman punya kepekaan sosial yang tinggi, sangat peduli terhadap nasib hamba-hamba Tuhan.
Pemuda seperti inilah yang didambakan Ayu selama ini, dan rasa itu semakin kuat saat Herman berterus terang menyukai kelembutannya, kecantikannya, dan betah berlama-lama berbicara dengannya, ah.. tetapi apakah mungkin persahabatan mereka dapat berganti menjadi sebuah ikatan perkawinan? sedangkan ia tahu kenyataannya bahwa Herman telah mempunyai calon istri?! dan apa yang ditakutinya selama ini terbukti..
"Kamu baik-baik saja kan, Ayu?.. bulan depan saya akan menikah. Sebenarnya.. Herman mencintaimu Ayu, tetapi kami telah dipertemukan lebih dulu. Seandainya saja saya lebih dulu mengenalmu.., maafkan saya, Ayu.., " Ayuning tak sanggup mendengar kelanjutan kata-kata itu, air matanya jatuh tanpa suara, ia berusaha keras menyembunyikan kesedihan dan kekecewaannya, karena ia sadar semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah, jika ia tak terima sama artinya ia melawan takdir Allah.
Ayu masih belum mampu mengendalikan diri, tak pernah diduganya akhir hubungannya akan jadi begini. Herman, pemuda yang disangkanya adalah sahabat sejati yang dipilihkan Allah untuknya, ternyata.. perlahan dibukanya Diary Merah Jambu yang berisi ungkapan rasanya dengan pemuda itu.
 *****
Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman pada hari kiamat kelak: Mana orang-orang yang saling mencinta karena Keagungan-Ku? Hari ini Ku-naungi mereka, dimana tidak ada naungan yang lain selain naungan-Ku. (HR. Muslim)
 *****
Untukmu Sahabatku,
Sahabat, tahukah engkau?, nasihatmu menduduki peringkat pertama di hatiku. Kemarin.. engkau mau mendengar keluhanku, kemarin.. engkau beri jiwaku tetesan embun, dan kemudian.. kau tinggalkan aku.
Akhirnya, diujung batas kesendirian ini, aku temukan satu jawaban, bahwa kehidupan ini akan terasa indah, jika kita senantiasa dekat dengan Allah, Ya Allah... Sahabat, kini kau datang lagi menghampiriku, dan bertanya, "Bagaimana khabarku saat ini?", sambil tersenyum aku berkata, "Alhamdulillah...", dan aku terharu saat mendengar, bahwa engkau sayang padaku.
Wahai sahabatku, janganlah engkau bosan untuk menasihatiku, jangan pula bosan untuk menyayangiku, bukankah kehidupan ini akan terasa indah jika kita saling sayang?, saling cinta?, Mencintai karena Allah. Sahabat, mencintai menjadikan kita kuat untuk tetap berpegang pada tali Allah, dan mari kita tebarkan rasa cinta ini ke segenap penjuru bumi, agar senantiasa damai hati insani.. Semoga Allah membalas segala kebaikanmu padaku, Sayangku s'lalu untukmu.
Perlahan Ayu menutup Diarynya, air mata mengucur deras dari kelopak matanya. "Ya Allah.. kenapa rasa ini harus ada?, bagaimana mungkin aku memikirkan seseorang yang bukan Engkau takdirkan untukku?!."
 *****
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al Baqarah 2:216)
*****
Dengan Nisalah Ayu selalu berbagi cerita suka dukanya, begitupun sebaliknya. "Semua telah berakhir, Nisa!, aku harus menerima kenyataan bahwa dia bukanlah untukku, walau terkadang aku masih berharap Allah akan merubah segalanya, namun kecintaanku pada-Nya membuat aku yakin, bahwa ini adalah yang terbaik yang diberikan-Nya.
Sebenarnya aku menaruh harapan besar pada hamba Allah yang sholeh itu, untuk menjadi sahabat yang dapat kuajak bersama mengelilingi perputaran roda ini, bagaikan Matahari dan Bulan yang silih berganti menerangi alam, menjadi khalifah bagi insan taqwa di bumi ini.
Namun sekali lagi aku sadar, apa yang menurutku baik belum tentu baik menurut-Nya, aku tidak tahu apa-apa, sedangkan Allah Maha Mengetahui segalanya. Yang terpenting bagiku kini, menjalani hidup ini bagai air yang mengalir, jika tiba saatnya nanti, insya Allah." Kata-kata mutiara itu meluncur deras dari bibirnya, terdengar begitu tegar,
"Apakah pemuda itu tahu perasaanmu, Ayu?," tanya Nisa. Ayuning tersenyum. "Ia tahu, Nisa.., dari perbincangan kami yang panjang, dari persahabatan kami yang cukup lama, aku yakin ia juga merasakan hal yang sama, tapi sudahlah.. Pemuda itu lebih dahulu mengenal wanita itu daripadaku, ia juga memutuskan untuk menikahinya karena petunjuk Allah. Semoga Allah memberkahi pernikahannya dan melimpahkan keberkahan atas pernikahannya." "Aamiin", ucap Nisa.
"Mungkin wanita itu lebih baik dan lebih taqwa dariku, ya Nisa?." Sebelum sempat Nisa berkomentar, Ayu telah meralat ucapannya. "Tapi bukankah yang berhak menilai baik dan taqwanya seseorang hanyalah Allah?!.." "Iya, Ayu.." Nisa membenarkan ucapan sahabatnya. "Eh, sudah jam 10, kita ke rumah Ana yuk." Kedua sahabat karib itupun pergi ke rumah sahabatnya yang baru melahirkan. Di atas langit terlihat mendung.
 *****
"Subhanallah lucunya..," mata Ayu dan Nisa berbinar melihat bayi mungil Ana, buah hati itu terlihat sehat, kulitnya putih dan rambutnya lebat sekali. Ayu sebenarnya ingin menggendong, tapi khawatir terjadi apa-apa karena si mungil baru berusia 5 hari, sementara di luar sana hujan turun dengan derasnya.
Ana begitu antusias menceritakan pengalaman melahirkannya, dan Ayu begitu menikmatinya, sesekali ia tampak merinding. Menghadapi masa-masa menstruasi saja sudah sedemikian menderita, apalagi kalau melahirkan ya?, bathinnya. Perasaan cemas itu semakin menjadi-jadi saat ia teringat Firman Allah yang menceritakan betapa sakitnya Maryam melahirkan Nabi Isa, a.s. sehingga ia berkata;
"Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan." (QS. Maryam 19:23)
"Sebenarnya aku pingin operasi caesar, supaya nggak sakit, tapi.. mulut ini mau bicara susahnya minta ampun, akhirnya kupikir sudahlah, pasrah saja..," Ana terlihat menarik nafas. "Melihat si mungil lahir, Subhanallah.. rasa sakitku mendadak hilang... Maha Besar-Nya Allah, ya.." Ungkap Ana melukiskan kebahagiaannya.
Mendengar penuturan sahabatnya, ada sesuatu yang menusuk hati Ayuning. Terkadang ia masih dihantui rasa takut jika nanti sudah menikah. Membayangkan dirinya akan hamil dan punya anak. Iapun menyadari kesibukannya dengan berbagai penelitian tumbuh-tumbuhan sampai terkadang lupa waktu, mengurus diri sendiri saja sudah kalang kabut, apalagi mengurus suami dan anak-anak? fikirnya.
Tapi rasa itu selalu ditangkisnya, bukankah melahirkan adalah kodrat perempuan?!, bukankah anak adalah rezeki yang tak ternilai?!, sementara banyak terjadi pasangan, akibat menunda kehamilannya di awal pernikahan, beresiko tinggi tidak dianugerahi keturunan.
Yach.., mungkin Allah murka pada mereka. "Duhai Allah, jadikanlah aku hamba-Mu yang bersyukur atas segala karunia-Mu," Ayu berdo'a dalam hati.
"Kok melamun sich Ayu?," tanya Ana menyadarkannya. "Eh.. bagaimana dengan pemuda itu?," Ayu sempat cerita pada Ana tentang kedekatannya dengan Herman, mendengar pertanyaan Ana, wajah Ayu berubah sendu, perlahan ia mulai menjelaskan,
"Ternyata dia bukan jodohku Ana, ia akan menikah bulan depan." Melihat kedukaan Ayu, Nisa berusaha mendinginkan suasana, "Ah.. kalau ada jodoh tak akan lari kemana..," serunya. "Hush.. aku belum siap jadi istri kedua!," sungut Ayu pura-pura marah, diiringi tawa kedua sahabatnya. "Kalau kamu sudah punya calon Sa?," tanya Ana hati-hati, "Nisa sich menunggu pangeran dari langit," ucapnya ringan.
Sejenak obrolan mereka terhenti melihat kehadiran suami Ana, ia begitu perhatian sekali terhadap istri dan anaknya. Karena tak ingin mengusik terlalu lama, iapun segera pergi.
"Punya suami itu enak lho Ayu, Nisa.. ada tempat untuk berbagi, beda saat masih sendiri, perasaan kita selalu gelisah, ada aja yang difikirkan. Bathin orang yang sudah menikah itu jauh lebih tenang, karena arah tujuan hidup mereka jelas."
"Ah.. Ana, kamu bisa aja!," celoteh Ayu. "Nggak percaya?, buktikan aja sendiri!," Kata Ana meniru iklan televisi, dengan maksud meyakinkan kedua sahabatnya.
Diam-diam Ayu asyik memperhatikan bayi mungil Ana yang tertidur lelap, ada rasa keibuan yang mendorongnya untuk memberanikan diri menggendong bayi itu, pelan dan sangat hati-hati. Nisa dan Ana membantu, keduanya saling berpandangan.
Saat si mungil ada dipelukannya, perasaan Ayu berbunga, sulit diungkap dengan kata-kata, yang jelas hatinya begitu bahagia. Pelan diciumnya lembut bayi itu. Melihat sahabatnya, Nisa tak enak hati mengganggu, tapi mereka masih akan pergi ke beberapa tempat, sedangkan hari sudah siang, "Yu.. kita pulang yuk?.." katanya pelan, sementara hujan di luar sana telah reda. Merekapun pamit, "Makasih ya, Ayu.. Nisa.. hati-hati di jalan." Ketika keduanya hampir di mulut pintu, "Sa.. nanti lihat-lihat ke atas ya.. kali aja pangerannya nyangkut di pohon," canda Ana.
 *****
Pulang dari rumah Ana, mereka singgah ke masjid terdekat untuk shalat Dzhuhur, kemudian melanjutkan perjalanan, Ayu mengajak Nisa ke supermarket. Macam-macam yang dibelikannya untuk orangtua.
Nisa sudah sangat memahami sahabatnya itu, seperti dirinya juga, Ayu sangat memperhatikan orangtua terutama ibunya, karena melalui perantara wanita mulia itulah mereka mengerti betapa besar kasih sayang Allah kepadanya. Mereka selalu ingin mensyukuri nikmat Allah dengan berbuat baik pada orangtua yang telah mengandung, mendidik dan membesarkannya.
Tiba-tiba Nisa kehilangan sahabatnya, cukup lama juga ia mencari kesana kemari, rupanya Ayu sedang asyik memperhatikan baju-baju hamil yang dipajang di etalase. "Aduh Yu.. kirain hilang.. rupanya di sini, mau beliin untuk siapa?," tanya Nisa, Ayu sedikit tersipu ditanya begitu, malu-malu ia berkata,
"Nggak untuk siapa-siapa kok Sa.. Ayu senang aja," katanya sambil masih sibuk memperhatikan. "Sa.. Ayu kok pingin pake baju ini ya?!", "Hah?!" Nisa kaget, "Ini kan baju hamil,"
 *****
Setelah memesan menu makan siang di warung langganan, kedua gadis itu duduk tenang di bawah pepohonan rindang, tempatnya teduh jauh dari polusi. Jam makan siang sudah lewat, warung tampak sepi, sehingga keduanya merasa betah berlama-lama.
"Ayu.. Ayu.. kok jadi aneh begini sich?!," Nisa tersenyum seraya geleng-geleng kepala membayangkan polah sahabatnya, Nisa jadi teringat Nini, sudah pernah diceritain belum, ya?.. " Nini yang bernama lengkap Cahyani adalah adik Nisa yang sudah menikah dalam usia yang masih sangat muda, 18 tahun.
"Dia itu paling seneng sama anak kecil, lho Yu.., entah apa penyebabnya suatu ketika ia merengek manja pada Nisa, "Mba'.. Aku pingin hamil.. tapi bagaimana mungkin.. akukan belum punya suami..., carikan aku dong Mba'..."
Ya Allah, mulanya Nisa kaget juga, ada apa dengan adikku?, kecil-kecil pingin hamil, punya anak?, ah, mungkin cuma bercanda, "Nanti Mba' carikan ya sayang.. ," Nisa coba menghibur hatinya.
Sejak saat itu dia rajin Qiyamullail, berdo'a siang malam agar diberikan Allah jodoh yang baik dan anak yang shaleh, Ninipun rajin mengaji, Nisa sampai terharu melihatnya.
Tak lama kemudian Allah mengabulkan permintaannya, ia diperkenalkan dengan seorang ikhwan yang kebetulan sedang mencari calon istri, keluarganyapun sayang pada Nini, akhirnya mereka menikah. Nini diboyong suaminya ke Jakarta. Alhamdulillah, tiga bulan kemudian Allah mewujudkan impiannya untuk memperoleh anak. Suatu hari ia curhat lagi,
"Mba'.. ternyata hamil itu rasanya begini ya.. serba salah. Seperti inilah dulu Bunda mengandungku ya..," katanya, dan kalau bicara sama ibu, ia selalu menangis, "Bunda.. kalau Nini punya salah, mohon dimaafkan ya..," katanya terisak.
Alhamdulillah, akhirnya Nini melahirkan dengan selamat, bayinya perempuan, namanya Mira, manis sekali. Sebulan, dua bulan Nini begitu menikmati menjadi seorang ibu. Namun kemudian,
"Bunda.. kok Mira hidungnya pesek?, setiap pagi dipencet tapi nggak mancung-mancung juga, sudah gitu matanya sipit lagi. Ada yang ngeledekin, Mira nanti sudah besar, kalau tertawa, nanti teman-temannya sudah pada ilang, Miranya baru sadar, Ninikan jadi sebel. Kok Mira nggak cantik kayak ibunya sich?!."
Mendengar keluhan Nini, ibu buru-buru menasihatinya, alhamdulillah ia cepat istighfar dan kembali bersyukur pada Allah. Kalau ingat Mira, Nisa jadi kangen sekali," Nisa berguman sambil mengeluarkan sebuah foto dari dompetnya.
"Coba lihat Yu.., lucukan?!," Ayu menatap kagum foto yang ditunjukkan sahabatnya. "Mau tahu panggilan sayang Nisa padanya?, "Boneka Jepang." Kata Nisa sembari tersenyum bahagia.
 *****
"Aduh.. belum sore begini kok jalanan sudah macet ya Yu?!," keluh Nisa. Sementara jauh di depan mereka banyak orang-orang mengerumuni sebuah tong sampah yang berada di depan klinik bersalin.
"Wanita tak bermoral, dikasi rezeki sama Allah malah dibuang!, kalau nggak siap jadi ibu ya jangan menikah!," umpat segerombolan ibu-ibu yang entah ditujukan pada siapa,
"Ada apa ya Yu?!," Nisa bertanya-tanya. Jalanan kembali normal, kedua sahabat itu hampir tak merasakan kalau habis terjebak kemacetan. Mereka tidak tahu ada peristiwa apa yang terjadi barusan. Klinik tampak sepi, yang berbekas hanya tumpukan sampah-sampah yang berserakan.
 *****
Sesungguhnya rugilah orang-orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan lagi tidak mengetahui, dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rezekikan kepada mereka, (semata-mata) mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka itu sesat dan mereka tidak mendapat petunjuk. (QS. Al An 'am 6:140)
Janganlah kamu membunuh anak-anakmu (karena takut) dari kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka. (QS. Al An 'am 6:151) 
*****
"Innalillaahi..," Ayu sedikit histeris saat membaca berita pagi yang ada di genggamannya. Tubuhnya lemas saat mengetahui peristiwa sesungguhnya yang terjadi kemarin. "Orok Bayi Ditemukan di Rumah Sakit Bersalin X". "Ya Allah, kenapa bisa tega seorang ibu membunuh darah dagingnya sendiri, bukankah Engkau titipkan ia rahim dan kelebihan rasa untuk lebih peka akan kasih sayang dan pengorbanan?," ucap Ayu sambil terus melanjutkan bacaannya,
Sementara pasangan lain bertahun-tahun mendamba buah hati, lain halnya dengan pasangan "TB", mereka berusaha keras untuk menghindari kelahiran anak dengan alasan ekonomi, Namun Allah berkehendak lain, ibu B dinyatakan positif, maka terjadilah peristiwa tragis ini.
 *****
Sore yang cerah, usai membahas kasus mengharukan, Ayu mengajak Nisa ke tempat favorit keluarga, taman bunga. Ia mengambil peralatan menyiram kembang-kembang kesayangan ibunya. Di tengah keasyikan bekerja, Ayu mencurahkan isi hatinya pada Nisa.
"Sa.. kalau difikir-fikir, merawat anak itu sama seperti merawat tanaman-tanaman ini ya.., harus telaten, disirami, dikasi pupuk, dibersihkan dari rumput-rumput, lengah dikit aja, mereka tumbuh tak karu-karuan.
Ayu teringat dulu ketika kuliah, Ayu rajin mengurus tanaman penelitian, ditinggal bentar aja, eh.. mereka pada layu, mungkin karena sering diperhatikan ya? jadi manja. Sementara waktu mepet sekali.
Menurut penelitian, tanaman senang mendengar musik klasik, hal itu akan membuat pertumbuhan mereka lebih baik, karena itu Ayu bawa radio dari rumah ke kebun untuk mutarin mereka, ternyata benar, mereka subur kembali.
Begitupula menurut penelitian para ilmuwan dan musisi, bahwa musik klasik sangat baik untuk pertumbuhan bayi, karena dalam musik itu terdapat lompatan-lompatan nada yang bisa merangsang otaknya, pantaslah saja selama ini para kiyai dan ustadz selalu menyarankan para ibu yang mengandung supaya lebih banyak mengaji ya.. sebab alunan suara Qur'an membawa dampak yang sangat luar biasa bagi anaknya.
Oh ya Nisa, dulu Ayu pernah sampai nangis lho ketika makan jagung, Ayu membayangkan pertama kali saat menanaminya, dari biji, tumbuh tunas, daun dan tiba-tiba sebesar ini. Perasaanku sangat bahagia sekali melihat perkembangan mereka, seperti ada ikatan bathin, mungkin rasa inilah yang dimiliki orangtua kita pada anak-anaknya, ya..
Ucap Ayu, sejenak ia menghentikan kalimatnya, "Sa, kini Ayu mulai menyadari kenapa Allah belum mengizinkan Ayu menikah, Ia ingin Ayu mengabdi dulu pada orangtua. Ayu juga mulai memahami kenapa Allah menghendaki Ayu masih sendiri, agar Ayu lebih menempa diri untuk menjadi seorang ibu di bumi ini!.."
Subhanallah. (Nisa membathin), ia kagum pada kecerdasan sahabatnya membaca Firman Allah dan rahasia cobaan Allah. Tiba-tiba matanya tertegun melihat serumpun Melati yang tumbuh subur di taman itu, dalam hati ia berkata, Melati itu semakin harum mewangi, Ya Allah.. aku memohon pada-Mu, berikanlah yang terbaik bagi-Mu untuknya, Aamiin.
Sejenak Ayu dan Nisa tertegun mendengar syair lagu dari balik jendela kamar Ayu yang persis menghadap taman, lagu di radio itu, lagu yang punya arti tersendiri bagi keduanya.
"Kau bunga di tamanku,
di lubuk hati ini,
Mekar dan harum mewangi,
Melati suntingan hati.
Bersemilah di tamanku, di lubuk hati ini,
Agar dapat ku resapi, hadirmu bagiku.
Kau Melati, Putih nan bersih,
kau tumbuh di antara belukar berduri,
Seakan tak perduli lagi,
meski dalam hidupmu kau hanya memberi,
Kau sebar harum s'bagai tanda,
cinta yang t'lah kau hadapi,
Di sepanjang waktu

19 November 2006

Amien

assalamu'alaikum wr.wb

oh TUHAN seandainya telah kau catat-kan
dia milik-ku, tercipta untuk-ku
satukan-lah hati-nya dengan hati-ku
titipkan-lah kebahagiaan

ku pasrah-kan kepada-MU
karuniakan-lah aku, pasangan yang beriman
bisa menemani-aku
supaya aku dan dia
dapat mencapai bahgia
kemuara"cinta yang Engkau Ridhoi"

TUHAN hanya kepada Engkau
aku meminta, dan menangis...
karena engakaulah yang memiliki hati - hati kami
aku hanya bisa merengek dan menangis,
hanya kepadamu-lah aku merengek minta belas kasian-MU

Tuhan aku minta cinta yang tumbuh dalam jiwa ini,
tumbuh karena atas kecintaan kami kepada-MU
Tuhan jangan kaubutakan hati kami karena cinta...

Tuhan Rihdoi-lah bunga-bunga cinta kami

amien...amien....amien...

29 Oktober 2006

minal aizin wal faizin


assalamu'alaikum wr.wb



Bila ada kata menyelipkan dusta, ada sikap membekas lara dan ada langkah menoreh luka, semoga masih ada maaf yang tersisa. Minal Aidin wal Faidzin Kala Lembayung Senja Ramadhan Terakhir Mulai Tenggelam , Dan siap menyambut datangnya sinar mentari hari yang fitri, Semoga rahmatnya membuka pintu lembaran baru yang suci Melebur dosa lama yang tak kita sadari, Memandu langkah pasti kita mengarungi hari yang tersisa, Mengingatkan kita tuk mohon maaf lahir batin yg tak terhingga.. Selamat hari raya idul fitri..Taqqabalallahu minna wa minkum..

14 Oktober 2006

... kenapa ya? ...

assalamu'alaikum wr.wb

Serakah


"Seandainya anak cucu Adam (manusia) mendapatkan dua lembah yang berisi emas, niscaya ia masih menginginkan lembah emas yang ketiga. Tidak akan pernah penuh perut anak Adam kecuali ditutup dalam tanah (mati). Dan Allah akan mengampuni orang yang bertaubat." (HR Ahmad).

Keserakahan manusia tidak akan pernah hilang kecuali setelah kematian menjemputnya. Dalam bahasa Arab, serakah disebut tamak yang artinya sikap tak pernah merasa puas dengan yang sudah dicapai. Karena ketidakpuasannya itu, segala cara pun ditempuh.

Serakah adalah salah satu dari penyakit hati. Mereka selalu menginginkan lebih banyak, tidak peduli apakah cara yang ditempuh itu dibenarkan oleh syariah atau tidak. Tak berpikir apakah harus mengorbankan kehormatan orang lain atau tidak. Yang penting, apa yang menjadi kebutuhan nafsu syahwatnya terpenuhi.

Bila tidak segera dibersihkan, penyakit sosial ini dapat menimbulkan malapetaka. Orang yang serakah, akan membuat mata hati dan pendengarannya menjadi tuli. "Cintamu terhadap sesuatu membuat buta dan tuli." (HR Ahmad).

Serakah juga menjadi pintu masuknya setan. Bila masuk dalam hati orang yang serakah, setan akan menghiasinya dengan sifat−sifat tercela lainnya. Dan orang yang serakah itu selalu menganggap baik apa yang dilakukannya, meski kebanyakan orang melihatnya sebagai suatu keburukan.

Serakah, ternyata tidak sebatas pada harta benda semata−mata. Ada orang yang serakah kepada wanita ataupun jabatan. Orang yang serakah kepada wanita, akan menjadikan wanita itu sebagai pemuas nafsunya belaka. Orang yang serakah kepada jabatan, akan berusaha mendapatkan apa yang menjadi incarannya dengan segala cara. Tak pernah berpikir apakah cara yang ditempuh baik atau buruk.

Namun, ada juga serakah dalam hal kebaikan. Serakah ini bisa memberikan jaminan keselamatan bagi pelakunya di dunia dan akhirat. Serakah yang baik merupakan sifat yang dimiliki oleh orang beriman.

Serakah yang baik akan mendorong orang beriman untuk berlomba−lomba meraih ridha Allah SWT. Mereka tak peduli bagaimana kondisi diri. Yang mereka lihat adalah ridha Allah SWT semata. Mereka rela meninggalkan anak istri untuk jihad di jalan−Nya. Mereka juga rela menempuh perjalanan yang begitu jauh untuk menyambut seruan Ilahi.

Orang yang serakah kepada kebaikan ini justru dianjurkan oleh Rasulullah SAW karena membuat mereka bersungguh−sungguh dalam beribadah dan beramal. Mereka juga menginfakkan sebagian hartanya di jalan Allah SWT. "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (karena tahajud), sedangkan mereka berdiri kepada (Allah) dengan rasa takut dan harap dan mereka menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka." (QS As− Sajadah (32): 16). (Hikmah/Republika)

Mari bekerja

assalamu'alaikum wr.wb

Bekerjalah



Sahabat Abu Hurairah RA berkata, "Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, seseorang yang keluar mencari kayu bakar (lalu hasilnya dijual) untuk bersedekah dan menghindari ketergantungan kepada manusia, itu lebih baik dari seseorang yang meminta−minta kepada orang lain, baik diberi atau pun ditolak. Karena sesungguhnya tangan yang di atas (memberi) itu lebih baik daripada tangan di bawah (meminta)." (HR Muslim).

Ada dua hikmah yang dapat dipetik dari cuplikan hadis di atas. Pertama, keutamaan bekerja. Islam tidak memandang jenis pekerjaan, tapi lebih menitikberatkan pada semangat bekerja, etos kerja, dan kegigihan untuk mengais rezeki yang halal. Karena memang jenis pekerjaan seseorang itu berbeda−beda.

Dalam sejarah para Nabi, kita temukan contoh keanekaragaman jenis pekerjaan mereka. Nabi Nuh sebagai ahli perkayuan, Nabi Daud sebagai ahli logam (QS Al−Anbiya (21): 80), Nabi Idris sebagai ahli jahit, Nabi Syu'aib sebagai ahli pertanian, Nabi Yusuf sebagai menteri hasil bumi, Nabi Musa sebagai buruh dan ahli bangunan, dan Nabi Muhammad SAW sebagai pengusaha dan penggembala.

Meski begitu, semangat dakwah ilallah para Nabi sedikitpun tidak pernah padam. Justru mereka menjadikan pekerjaan sebagai simbol kemuliaan (al−izzah) dan penopang dakwah. Bukan sebaliknya, menjadikan dakwah sebagai lahan pekerjaan untuk mencari dan mengumpulkan harta.

Simak jawaban para Nabi ketika dakwah mereka diklaim bermotif materi. "Dan aku sekali−kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam." (QS Asy−Syu'ara (26): 164).

Kedua, tercelanya mengemis. Perbuatan ini adalah cermin kemalasan. Dan Islam sangat mengecam kemalasan. Rasulullah SAW selalu berdoa agar dijauhkan dari sikap malas (al−kasal). Islam berulang kali menganjurkan umatnya agar giat bekerja dan terus meningkatkan etos kerja, baik sebagai buruh, karyawan, pegawai negeri, atau wiraswasta. "Dan Katakanlah, Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul−Nya serta orang−orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan−Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS At−Taubah (9): 105).

Imam Al−Ghazali dalam Ihya 'Ulumuddin mengatakan, "Ada dua cara mendapatkan harta. Pertama, keberuntungan tanpa harus memeras keringat, seperti warisan atau menemukan harta karun. Kedua, bekerja baik berdagang, buruh, dan lainnya. Islam mengecam keras tindakan yang ketiga yaitu, meminta−minta kecuali terdesak." Ujar Rasulullah SAW, "Tidaklah seseorang senantiasa mengemis kepada orang lain, kecuali pada hari kiamat wajah mereka tiada berdaging." (HR Muslim). (Hikmah/Republika)
assalamu'alaikum wr.wb

Budaya Malu


Rasulullah SAW bersabda, "Malu itu termasuk keimanan dan keimanan membawa ke surga. Sedangkan perbuatan keji termasuk kejelekan dan kejelekan tempatnya di neraka." (HR Tirmidzi).

Manusia merupakan makhluk Allah SWT yang paling sempurna. Kesempurnaan itu tampak dari dianugerahkannya akal, sehingga manusia mampu memilah antara yang hak dan batil.

Malu merupakan sifat yang mulia. Sifat yang telah diwariskan oleh para Nabi. Islam menganjurkan umatnya agar menjadikan malu sebagai penghias hidupnya. Hiasan yang membawa kebaikan bagi pemiliknya dan menjadi jalan menuju surga.

Imam Ibnul Qoyyim berkata, "Antara dosa dan sedikitnya rasa malu ada keterkaitan yang sangat erat, maka setiap dari keduanya akan menuntut yang lain. Barang siapa malu kepada Allah ketika berbuat maksiat, Allah pun akan malu menyiksanya pada hari kiamat kelak. Dan barang siapa tidak punya rasa malu kepada Allah ketika berbuat maksiat, maka Allah tidak akan malu menyiksanya kelak." (Ad−Da'u Wad Dawa', hal 111).

Hilangnya rasa malu menyebabkan hilangnya seluruh kebaikan manusia. Sifat malu juga merupakan perangai yang mengantarkan seseorang untuk istiqamah berbuat baik dan terpuji, sehingga rela meninggalkan perbuatan jelek dan maksiat.

Sudah saatnya malu menjadi budaya yang harus selalu dijaga dan dipelihara, baik oleh individu, kelompok, terlebih bangsa ini. Kita sadari betapa tidak berhentinya petaka, bencana, yang melanda bangsa ini mungkin salah satunya diakibatkan oleh hilangnya rasa malu.

Pejabat merasa malu jika menyelewengkan kekuasaan terkait profesinya. Jabatannya merupakan amanah yang harus diemban. Dia menjadi pejabat bukan karena kehebatannya, melainkan kepercayaan konstituen kepadanya. Seorang wanita merasa malu mempertontonkan 'perhiasannya' pada orang yang tidak memiliki hak atasnya. Dia berpikir bahwa 'perhiasan' itu merupakan karunia Allah SWT yang harus dijaga.

Seorang pengusaha merasa malu jika terlambat memberi upah pada karyawannya. Kesuksesan usahanya adalah berkat kerja keras para karyawannya. Tak ada artinya dia tanpa bantuan karyawan.

Penguasa merasa malu jika tidak memberikan pelayanan terbaiknya kepada rakyat. Kekuasaan yang dimilikinya sangat terbatas oleh ruang dan waktu. Namun, kekuasaan Allah SWT bersifat kekal. Ketakutannya kepada Allah SWT mendorongnya untuk berbuat adil dan bijaksana.

Hasan Al Bashri berkata, "Empat perkara yang barang siapa ada padanya akan sempurna, dan barangsiapa yang mempunyai satu saja, maka ia termasuk orang saleh pada kaumnya; agama sebagai petunjuknya, akal yang meluruskannya, mawas diri yang menjaganya, malu yang menggiringnya." (Al−Adab asy−Syar'iyah, 2/219). (Hikmah/Republika)
assalamu'alaikum wr.wb

Tangan-tangan Kecil itu Bernama Keikhlasan Hati


Sejak kita mampu mendengar, kita diinformaskan bahwa amal yang berarti bukanlah amal yang besar atau amal yang lahir dari tangan−tangan besar atau ia hadir dari kebesaran dan kekuasaan sesorang. Namun, amal yang begitu menyentuh hati adalah amal yang dilakukan dengan melibatkan hati sebagai aktor utamanya. Hati−lah yang berperan besar bagaimana suatu amal itu mampu mengubah kebekuan hati penerimanya.

Amal, haruslah digerakkan dengan tangan−tangan kecil yang tulus. Tangan−tangan yang tak terlihat (invisible hand), namun bisa dirasakan keberadaannya memenuhi rongga−rongga jiwa yang kerontang. Besarnya amal atau kemanfaatannya, akan sirna bila tangan−tangan kecil itu tak bergerak.

Tak bergerak atau berhenti bergerak atau tak mau berusaha menggerakannya walau perlahan sekalipun. Padahal Rasul yang mulia, Muhamad telah membatasi perilaku amal kita bahwa Mengerjakan amal karena selain Allah adalah syirik, namun meninggalkannya adalah riya’.

Syirik, berarti membiarkan tangan−tangan kecil itu terpasung dan membuatnya tak bergerak. Tetap riya’ berarti tak mau berusaha menggerakkan tangan−tangan itu dari kekakuan gerak keikhlasan.

Berhenti, bisa dipahami sebagai tanpa gerakan. Ia jumud, dan juga tidak produktif menghasilkan amal yang berkualitas. Walaupun ada, nampaknya amal itu akan lebih hina daripada debu jalanan sekalipun. Sebab, bila amal yang tak berkualitas hanyalah akan sirna seiring tiupan angin yang menerpa debu jalanan. Hilang seketika tanpa bekas−bekas yang tergores berarti.

Kita Harus Belajar

assalamu'alaikum wr.wb

Belajar dari Ramadhan, Ku Raih Puasa Ruhani


Ada seorang wanita yang mencaci maki pembantunya di bulan Ramadhan. Ketika Rasulullah melihat kejadian ini beliau menyuruh seseorang untuk membawa makanan dan memanggil wanita itu, lalu Rasulullah bersabda, "Makanlah makanan ini,". Wanita itu menjawab, “Saya ini sedang berpuasa ya Rasulullah,” Rasululah bersabda lagi, "Bagaimana mungkin kamu berpuasa padahal kamu mencaci−maki pembantumu. Sesunguhnya puasa adalah sebagai penghalang bagi kamu untuk tidak berbuat hal−hal yang tercela. Betapa banyak orang yang berpuasa, dan betapa banyaknya orang yang kelaparan.”

Kisah yang terjadi pada masa Rasulullah ini merupakan potret perilaku kebanyakan manusia yang masih berulang hingga kini. Pemunculan sikap, dimana puasa hanya sebatas menahan nafsu jasmaniah seperti apa yang Rasul khawatirkan terhadap umatnya ketika menjalani hari−hari Ramadhan yang teramat mulia, yakni, "Banyak sekali orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa−apa kecuali lapar dan dahaga," begitulah sabdanya.

Shaum (shiyam) atau yang lebih dikenal masyarakat Indonesia dengan istilah ‘puasa’, berarti menahan. Menahan dari hal−hal yang dilarang Alloh hingga waktu yang ditentukan. Sepertihalnya makan, minum dan bercampur dengan pasangan kita di waktu siang. Tetapi, sesungguhnya ada hal lain yang disiratkan kutipan kisah di atas atas maksud istilah ‘menahan’ tadi, tidak hanya berpuasa secara jasmani, tetapi juga mem’puasa’kan ruhani mereka.

Amarah, menggunjingkan sesama (ghibah), dan berbohong, adalah salah satu bentuk pelanggaran pahala tatkala kita tengah berpuasa. Sebagaimana yang dikisahkan di atas, seorang wanita yang memaki pembantunya, merupakan cerminan dari sifat seseorang yang tak mampu mengaplikasikan ruh shiyam (puasa) yaitu menahan sesuatu yang Alloh haramkan. Namun bukan berarti, ketika sudah berbuka kita bisa melepaskan amarah kita, boleh berbohong, dan lainnya.

Di sinilah, Alloh mengajarkan tentang makna shaum bagi hambaNya. Bagaimana sebuah ibadah puasa mampu memiliki efek luar biasa bagi ibadah lainnya. Dengan kelebihannya, puasa mampu melatih lahir dan batin kita untuk senantiasa beribadah kepadaNya. Menahan kebutuhan jasmaniah dan melatih ruhaniah

Namun, sejujurnya kerapkali benteng pertahanan itu berlubang, walau tak sampai hancur hingga puasa kita batal karenanya. Namun, dengan berlubangnya puasa kita, rusak pula pahala yang kita rajut sejak sahur di kala fajar hingga waktu berbuka di senja hari. Dan kitapun tak mendapatkan apa−apa, hanya sebatas rasa lapar yang menggigit, kerongkongan yang kering dan bau mulut yang tak sedap. Sia−sia.

Dalam menyambut kemuliaan Ramadhan, Rasulullah telah menyontohkan dengan mempersiapkan kedatangannya 2 bulan sebelumnya, yakni Rajab dan Sya’ban. Dua bulan menjelang Ramadhan inilah, Rasulullah dan para sahabat melakukan "pemanasan" sebelum Ramadhan benar−benar hadir mengisi hari−hari. Hingga kita benar−benar merasa siap dengan keberkahan yang akan Alloh SWT karuniakan saat Ramadhan.

ada apa dengan RAMADHAN

assalamu'alaikum wr.wb

Ramadhan, Ada Apa Denganmu?


Ramadhan, masa penuh suka cita bagi kaum dhuafa dan anak-anak yatim, telah tiba. Teringat wejangan tetua, bahwa sedekah paling baik adalah yang diberikan selama bulan penuh kemuliaan ini.

Dan, selaras dengan "tangan kanan memberi tanpa sepengetahuan tangan kiri", adalah kepeduliaan tanpa pamrih yang sepantasnya melandasi aktivitas bersedekah setiap muslim, bahkan setiap orang, terlebih pada bulan tersebut. Juga, sepeninggal nabi dan rasul, kepada alim ulama, ummat mencari petuah-petuah yang meluruskan jalan.

Sayang beribu sayang, "apa yang saya percayai"-seperti yang saya paparkan di atas-berbenturan dengan "apa yang (akan) saya saksikan" selama Ramadhan pada tahun tahun dan tahun-tahun silam.

Pertama, undangan buka puasa dan pembagian bingkisan serta zakat fitrah bagi para dhuafa dan anak yatim memang sudah menjadi kebiasaan dari tahun ke tahun. Tapi, berbagai manifestasi kemurahan hati semacam itu niscaya tidak akan menjadi safeguard bagi dhuafa pasca Ramadhan. Kebahagiaan yang terbit akibat kemurahan hati orang-orang yang mampu, hanya sekejap. Sementara itu, kesusahan hidup dhuafa hakikinya berlangsung berkepanjangan.

'Tragis'nya, justru pada para penghuni dunia selebriti seolah firman Illahi terbuktikan. Mulai dari waktu sahur, tengah hari, saat berbuka puasa, malam hari, hingga waktu sahur berikutnya, adalah para artis yang kebanjiran-berat saya menulis kata ini-"berkah".

Jarak kebahagiaan material antara yang diterima oleh kaum dhuafa dengan para selebriti tak ubahnya seperti bumi dan langit. Jika untuk sebuah acara berdurasi satu jam saja seorang selebriti dapat menerima jutaan rupiah, sehingga lebih dari sekedar cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mendasar, seorang dhuafa harus bermandi peluh mencari sesuatu yang dapat memperpanjang hidupnya satu hari. Itu pun tanpa jaminan ia pasti mendapatkannya.

Saya tidak tengah menggugat profesi selebriti. Juga tidak sedang mempermasalahkan halal tidaknya rezeki yang mereka peroleh dari kesibukan mereka mengisi acara di layar kaca.

Yang membuat hati pedih adalah realita bahwa kian kayanya para selebriti selama Ramadhan merupakan buah dari kegandrungan khalayak luas akan dunia selebriti itu sendiri. Masyarakat telah menjadi 'orang tua asuh', dengan kecintaan para televisi sebagai 'pola asuh'nya dan para artis sebagai 'anak-anak asuh'nya'.

Gaya hidup itulah yang-ambil contoh ekstrim-membuka kesempatan bagi seorang selebriti, yang memiliki dua anak hasil kumpul kebo dengan selebriti lainnya yang berbeda iman, untuk tampil di televisi menceritakan pengalamannya melaksanakan ibadah puasa selama Ramadhan.

Entah, dari perspektif mana penyikapan terhadap si selebriti harus dilakukan. Haruskah dari empati, sehingga memandangnya sebagai seorang pendosa yang menjadikan tiga puluh hari bulan ini sebagai momen 'pertobatan'? Ataukah dengan pandangan judgmental, dengan menilai kisah si artis sebagai perwujudan betapa neraka dan surga telah saling tumpang tindih tak keruan?

Kedua, Ramadhan menjadi masa indah bagi pengusaha bingkisan. Tidak ada salahnya dengan aktivitas berdagang, adilakukan dengan jujur dan adil. Pertanyaannya, di seputar manakah bingkisan-bingkisan itu diantarkan?

Sebagian, bisa jadi masuk ke panti-panti yatim piatu. Ada pula yang menjadi hadiah bagi para pekerja yang sering terlupakan, seperti penjaga pintu perlintasan kereta api, petugas menara mercusuar, dan polisi berpangkat rendah yang sibuk mengatur para pengemudi kendaraan yang sebenarnya enggan diatur.

Tetapi, dugaan terkuat, lalu lintas utama bingkisan lebaran-terlebih yang berkemasan mewah dan berharga mahal-adalah dari kaum berharta yang satu ke kaum berharta yang lain. Urgensi parcel, jika dianalogikan sebagai sedekah, telah berpindah dari hasrat altruistis (berbagi kegembiraan dengan kaum papa) ke motivasi egoistis (simbol kepentingan terselubung si pemberi yang 'seyogianya' dipenuhi oleh si penerima parcel).

Signifikansi bingkisan pun, tak pelak, berubah. Bukan lagi ungkapan syukur atas limpahan rezeki dari ar Rahman ar Rahim, melainkan bentuk penghamburan uang yang sampai-sampai harus dilarang.

Lagi, bagaimana menanggapi fenomena ini? Julukan apakah yang pantas diberikan kepada si pemberi bingkisan? Si murah hati, atau si busuk hati? Juga bagi si atasan penerima bingkisan, apakah ia cerminan pemimpin yang dicintai bawahan sehingga dibanjiri hadiah, ataukah tidak lebih dari seorang individu yang cukup dungu dengan membiarkan dirinya dijadikan sasaran aksi para penjilat?

Ketiga, sekian banyak alim ulama menjadi langganan beraneka media untuk memberikan santapan rohani kepada para pemirsa. Alim ulama, selaku orang-orang yang seharusnya sibuk memperkaya diri dengan pengetahuan agama dan membangun watak takwa, begitu masuk ke dunia media tidak sedikit yang serta-merta berubah penampilan.

Latar panggung yang indah serta gaya berbusana yang modis dan berganti setiap hari, telah mendeviasi citra para ulama selaku kaum bersahaja. Akibatnya, bisa jadi akan muncul problem legitimasi bagi si ulama untuk bertutur tentang pentingnya hidup sederhana dan ikhlas seperti Rasulullah Muhammad, tatkala pakaian yang dikenakan si ulama nyatanya berbeda jauh dengan isi ceramahnya.

Jadwal padat kegiatan para ulama untuk mengisi forum pengajian di gedung-gedung besar dan kelompok-kelompok elit seperti telah memisahkan ulama dari habitat mereka semula, yakni wong cilik di mushala-mushala kampung maupun di tanah lapang yang gersang dan tanpa tempat duduk.

Kaum jelata ini tak menyimpan banyak uang, namun memendam rindu akan pencerahan dari sang ustad. Tetapi, jangankan berhasil mendatangkan si alim ulama, memasukkan nama mushala mereka ke daftar antrian saja sudah menjadi perjuangan yang beratnya luar biasa.

Jadi, apakah petuah-petuah indah yang disampaikan para pengkhutbah itu merupakan cerminan kepekaan mereka atas problem-problem aktual, ataukah sebatas produk kreativitas rasional yang dipacu oleh desakan kapitalisme?

Apakah kekaguman masyarakat adalah masih murni seperti dulu, yakni simpati terhadap kesantunan pekerti si ustad? Ataukah, diam-diam terselip di batin, kekaguman itu sudah tercemari oleh rasa penasaran ingin melihat penampilan sang ustad hari ini yang pasti dikemas dengan hiasan yang lebih baik daripada hari kemarin?

Adalah rentetan pertanyaan atau, dengan kata lain, ketidak-kongruenan antara "apa yang saya percayai" dengan "apa yang saya saksikan" yang berujung pada-maaf-pesimisme bahwa Ramadhan tahun ini akan berakhir dengan jumlah pemenang yang lebih banyak daripada tahun-tahun silam.

Manusia, agaknya, tidak lagi melihat janji-janji agung Illaahi sebagai sesuatu yang istimewa untuk dinantikan. Wallaahu a'lam bishawab.

mentari panas

assalamu'alaikum wr. wb

Matahari Terik di Suatu Siang Ramadhan



Matahari siang Ramadhan kali ini terasa begitu membakar. Bagaimana tidak, seharian penuh masih saja kita gunakan untuk mengejar dunia yang tak ada habisnya untuk dinikmati pemujanya. Ibarat air laut yang tak pernah kenyang ketika direguk, selalu haus dan sama : takkan ada habisnya!.

Padahal, sinar matahari yang berpendar di belahan Timur Tengah, dimana Rasulullah SAW dan para shahabatnya tinggal, jauh lebih terik daripada matahari di belahan Indonesia. Di padang pasir yang kering kerontang dan gersangnya pepohonanlah, mereka dibina menjadi generasi terbaik sepanjang sejarah manusia.

Namun, ketika kita mendekat untuk mengamati mereka, ada sebuah perbedaan yang mencolok antara generasi terbaik itu dengan kita yang hidup jauh berbelas abad setelah Rasulullah. Yakni, mereka jauh lebih siap dalam menghadapi dan menyambut bulan mulia itu.

Kita lihat bagaimana Rasulullah sebagai guru terbaik mengajarkan untuk warming up di dua bulan sebelum Ramadhan menjelang. Ya, Rajab dan Sya’ban menjadi medan latihan pertama sebelum seorang muslim ‘bertempur’ di bulan Ramadhan.

Namun, orang−orang di belahan timur seperti Indonesia, merasa matahari kini jauh lebih panas dari biasanya. Dengan dzikir keluh dan lafazh kesah, menambah beringasnya surya yang terasa hampir menguliti tubuh.

Bagaimana mungkin, padahal matahari yang sama dengan keadaan jauh lebih ganas di padang pasir sana, para sahabat tak pernah melantunkan doa putus asa menghadapi keadaannya. Justeru mereka begitu menikmati shaum mereka dengan kondisi alam yang tak bersahabat.

Di Indonesia, dimana orang−orang seperti aku hidup dalam gemerlapnya lampu metropolitan, menyambut Ramadhan terasa begitu asing dan mengherankan. Kalaupun toh dilakukan, hanya sebatas kalangan masjid dan kelompok kerohanian di instansi tertentu.

Penyambutan di kalangan keluarga? Kalau ada, hanyalah sebagian kecil di kalangan aktivis saja. Namun di kalangan pasifis, menyambut di mall dan pusat perbelanjaan atau café jauh lebih meriah. Ditambah dengan membeli aksesoris mahal untuk menandakan bahwa mereka kini berada di bulan Ramadhan.

Sehingga wajar saja, kalau matahari di sudut Timur ini jauh lebih ganas ketimbang sinar yang memancar di padang pasir sana. Kering kerontangnya iman membuat setiap rusuk tak lagi mampu menopang tubuh yang disibukkan mengejar dunia. Sedih rasanya, ketika air mata tak mampu lagi menolak nafsu raga yang mengejar sesuatu yang fana.

Dan matahari, kerap datang dengan pasti sebagaimana malam berganti setiap hari dan iringan detik−detik jam yang terbuang sia−sia oleh manusia kota yang mengaku modern namun kuno akan ma’rifat kepadaNya.

Panasnya matahari takkan berarti apa−apa, asal pendingin hati yang bersemayam di balik raga berfungsi sebagaimana mestinya. Agar berfungsi baik, jadikanlah lafazh dzikir dan doa syahdu dalam melembutkan hati untuk mengembalikan fungsinya agar dapat mendekat padaNya.


(Kutulis, ketika aku sadar bahwa Ramadhan tinggal beberapa saat lagi)

Assalamu'alaikum wr.wb