Matahari Terik di Suatu Siang Ramadhan
Matahari siang Ramadhan kali ini terasa begitu membakar. Bagaimana tidak, seharian penuh masih saja kita gunakan untuk mengejar dunia yang tak ada habisnya untuk dinikmati pemujanya. Ibarat air laut yang tak pernah kenyang ketika direguk, selalu haus dan sama : takkan ada habisnya!.
Padahal, sinar matahari yang berpendar di belahan Timur Tengah, dimana Rasulullah SAW dan para shahabatnya tinggal, jauh lebih terik daripada matahari di belahan Indonesia. Di padang pasir yang kering kerontang dan gersangnya pepohonanlah, mereka dibina menjadi generasi terbaik sepanjang sejarah manusia.
Namun, ketika kita mendekat untuk mengamati mereka, ada sebuah perbedaan yang mencolok antara generasi terbaik itu dengan kita yang hidup jauh berbelas abad setelah Rasulullah. Yakni, mereka jauh lebih siap dalam menghadapi dan menyambut bulan mulia itu.
Kita lihat bagaimana Rasulullah sebagai guru terbaik mengajarkan untuk warming up di dua bulan sebelum Ramadhan menjelang. Ya, Rajab dan Sya’ban menjadi medan latihan pertama sebelum seorang muslim ‘bertempur’ di bulan Ramadhan.
Namun, orang−orang di belahan timur seperti Indonesia, merasa matahari kini jauh lebih panas dari biasanya. Dengan dzikir keluh dan lafazh kesah, menambah beringasnya surya yang terasa hampir menguliti tubuh.
Bagaimana mungkin, padahal matahari yang sama dengan keadaan jauh lebih ganas di padang pasir sana, para sahabat tak pernah melantunkan doa putus asa menghadapi keadaannya. Justeru mereka begitu menikmati shaum mereka dengan kondisi alam yang tak bersahabat.
Di Indonesia, dimana orang−orang seperti aku hidup dalam gemerlapnya lampu metropolitan, menyambut Ramadhan terasa begitu asing dan mengherankan. Kalaupun toh dilakukan, hanya sebatas kalangan masjid dan kelompok kerohanian di instansi tertentu.
Penyambutan di kalangan keluarga? Kalau ada, hanyalah sebagian kecil di kalangan aktivis saja. Namun di kalangan pasifis, menyambut di mall dan pusat perbelanjaan atau café jauh lebih meriah. Ditambah dengan membeli aksesoris mahal untuk menandakan bahwa mereka kini berada di bulan Ramadhan.
Sehingga wajar saja, kalau matahari di sudut Timur ini jauh lebih ganas ketimbang sinar yang memancar di padang pasir sana. Kering kerontangnya iman membuat setiap rusuk tak lagi mampu menopang tubuh yang disibukkan mengejar dunia. Sedih rasanya, ketika air mata tak mampu lagi menolak nafsu raga yang mengejar sesuatu yang fana.
Dan matahari, kerap datang dengan pasti sebagaimana malam berganti setiap hari dan iringan detik−detik jam yang terbuang sia−sia oleh manusia kota yang mengaku modern namun kuno akan ma’rifat kepadaNya.
Panasnya matahari takkan berarti apa−apa, asal pendingin hati yang bersemayam di balik raga berfungsi sebagaimana mestinya. Agar berfungsi baik, jadikanlah lafazh dzikir dan doa syahdu dalam melembutkan hati untuk mengembalikan fungsinya agar dapat mendekat padaNya.
(Kutulis, ketika aku sadar bahwa Ramadhan tinggal beberapa saat lagi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar