14 Oktober 2006

assalamu'alaikum wr.wb

Budaya Malu


Rasulullah SAW bersabda, "Malu itu termasuk keimanan dan keimanan membawa ke surga. Sedangkan perbuatan keji termasuk kejelekan dan kejelekan tempatnya di neraka." (HR Tirmidzi).

Manusia merupakan makhluk Allah SWT yang paling sempurna. Kesempurnaan itu tampak dari dianugerahkannya akal, sehingga manusia mampu memilah antara yang hak dan batil.

Malu merupakan sifat yang mulia. Sifat yang telah diwariskan oleh para Nabi. Islam menganjurkan umatnya agar menjadikan malu sebagai penghias hidupnya. Hiasan yang membawa kebaikan bagi pemiliknya dan menjadi jalan menuju surga.

Imam Ibnul Qoyyim berkata, "Antara dosa dan sedikitnya rasa malu ada keterkaitan yang sangat erat, maka setiap dari keduanya akan menuntut yang lain. Barang siapa malu kepada Allah ketika berbuat maksiat, Allah pun akan malu menyiksanya pada hari kiamat kelak. Dan barang siapa tidak punya rasa malu kepada Allah ketika berbuat maksiat, maka Allah tidak akan malu menyiksanya kelak." (Ad−Da'u Wad Dawa', hal 111).

Hilangnya rasa malu menyebabkan hilangnya seluruh kebaikan manusia. Sifat malu juga merupakan perangai yang mengantarkan seseorang untuk istiqamah berbuat baik dan terpuji, sehingga rela meninggalkan perbuatan jelek dan maksiat.

Sudah saatnya malu menjadi budaya yang harus selalu dijaga dan dipelihara, baik oleh individu, kelompok, terlebih bangsa ini. Kita sadari betapa tidak berhentinya petaka, bencana, yang melanda bangsa ini mungkin salah satunya diakibatkan oleh hilangnya rasa malu.

Pejabat merasa malu jika menyelewengkan kekuasaan terkait profesinya. Jabatannya merupakan amanah yang harus diemban. Dia menjadi pejabat bukan karena kehebatannya, melainkan kepercayaan konstituen kepadanya. Seorang wanita merasa malu mempertontonkan 'perhiasannya' pada orang yang tidak memiliki hak atasnya. Dia berpikir bahwa 'perhiasan' itu merupakan karunia Allah SWT yang harus dijaga.

Seorang pengusaha merasa malu jika terlambat memberi upah pada karyawannya. Kesuksesan usahanya adalah berkat kerja keras para karyawannya. Tak ada artinya dia tanpa bantuan karyawan.

Penguasa merasa malu jika tidak memberikan pelayanan terbaiknya kepada rakyat. Kekuasaan yang dimilikinya sangat terbatas oleh ruang dan waktu. Namun, kekuasaan Allah SWT bersifat kekal. Ketakutannya kepada Allah SWT mendorongnya untuk berbuat adil dan bijaksana.

Hasan Al Bashri berkata, "Empat perkara yang barang siapa ada padanya akan sempurna, dan barangsiapa yang mempunyai satu saja, maka ia termasuk orang saleh pada kaumnya; agama sebagai petunjuknya, akal yang meluruskannya, mawas diri yang menjaganya, malu yang menggiringnya." (Al−Adab asy−Syar'iyah, 2/219). (Hikmah/Republika)

Tidak ada komentar:

Assalamu'alaikum wr.wb